Membangun Kesadaran Ekologis dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

 

Membangun Kesadaran Ekologis 

Membangun Kesadaran Ekologis dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Oleh: Nita Andriani

Beberapa waktu lalu, media sosial diramaikan oleh film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Film berdurasi 95 menit ini disutradarai melalui kolaborasi lintas generasi antara Dandhy Laksono—yang dikenal melalui film Sexy Killers dan Dirty Vote—dan Cypri Paju Dale, seorang antropolog sekaligus peneliti isu Papua.

Produksi film ini melibatkan berbagai lembaga, di antaranya Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Yayasan Bentala Pusaka, Jubi Media, Greenpeace Indonesia, dan LBH Papua Merauke.

Film Pesta Babi menyoroti perjuangan masyarakat adat Papua Selatan dalam mempertahankan ruang hidup mereka yang terancam oleh eksploitasi sumber daya alam skala besar yang melibatkan perusahaan swasta.

Konflik agraria seperti yang terjadi di Papua Selatan merupakan persoalan serius yang hingga kini belum menemukan penyelesaian yang memadai di Indonesia.

Menurut data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA, 2023), (sepanjang 2015-2022) selama pemerintahan Presiden Joko Widodo, telah terjadi sekitar 2.700 kasus konflik Agraria.

Akibatnya, lebih dari 1.500 orang yang memperjuangkan tanah kemudian ditangkap, sebagian dijatuhi hukuman penjara, sekitar 850 orang mengalami kekerasan, dan sekitar 70 orang kehilangan nyawa (Kontras, 2024).

Melihat fenomena tersebut, sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI), saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membawa isu-isu sosial yang nyata ke dalam ruang kelas.

Dalam proses pembelajaran, saya menayangkan film dokumenter Tanah Moyangku yang diproduksi oleh Watchdoc.

Film ini mengangkat persoalan serupa, yaitu sengketa lahan antara masyarakat adat di Kalimantan dan perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Memelihara Kehidupan Manusia

Saya menilai film tersebut sangat relevan untuk menjadi pemantik diskusi pada materi tentang memelihara kehidupan manusia (Hifz al-Nafs).

Melalui film ini, peserta didik diajak memahami bahwa menjaga alam dan lingkungan merupakan bagian penting dari upaya menjaga kehidupan manusia.

Alam dan lingkungan yang sehat menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan hidup masyarakat.

Eksploitasi alam yang dilakukan secara berlebihan dan tidak bertanggung jawab dapat menimbulkan berbagai bencana, seperti banjir, tanah longsor, hilangnya sumber mata pencaharian, hingga rusaknya ruang hidup masyarakat.

Dampak-dampak tersebut tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa manusia.

Oleh karena itu, berbagai persoalan yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan tidak dapat dianggap sepele karena bertentangan dengan tujuan syariat (maqāṣid al-syarī‘ah), khususnya Hifz al-Māl (menjaga harta) dan Hifz al-Nafs (menjaga jiwa).

Manusia sebagai Khalifah Fil Ardh

Al-Qur’an sendiri menempatkan pelestarian alam sebagai bagian penting dari keimanan. Manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh yang memiliki amanah untuk menjaga dan mengelola bumi dengan penuh tanggung jawab. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-A‘raf ayat 56:

"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Al-A‘raf: 56)

Ayat tersebut menegaskan bahwa segala bentuk kerusakan di muka bumi merupakan perbuatan yang dilarang karena dapat mengganggu keseimbangan kehidupan.

Sebagai khalifah di bumi, manusia seharusnya menjaga dan melestarikan alam, bukan justru merusaknya.

Namun, realitas menunjukkan bahwa berbagai bentuk kerusakan lingkungan masih terus terjadi, mulai dari membuang sampah sembarangan ke sungai, menangkap ikan dengan bahan peledak, melakukan penggundulan hutan, hingga praktik pertambangan ilegal yang kerap menimbulkan bencana dan memakan korban jiwa.

Oleh karena itu, pemahaman tentang pentingnya menjaga alam dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ardh perlu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan.

Permasalahan nyata yang terjadi di masyarakat sudah seharusnya dihadirkan dalam proses pembelajaran agar peserta didik tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu melihat relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual, bermakna, dan mampu menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan serta keadilan sosial. []

 

Posting Komentar untuk "Membangun Kesadaran Ekologis dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam"