%20(1).jpeg)
Feminisme Akar Rumput dan Perspektif Antropologi dalam Pemberdayaan Desa Ranu (Dok: LETSS Talk)
%20(1).jpeg)
Perlunya Feminisme Akar Rumput dan Perspektif Antropologi dalam Pemberdayaan Desa Ranu
Oleh: Ni Komang Ayu Leona Wirawan
Let’s Talk about SEX n SEXUALITIES (LetSS Talk) kembali hadir dengan episode ke-38 yang bertajuk “Feminisme dari Pulau Terpencil” pada Selasa (07/04) yang lalu. Diah Irawaty, biasanya membawakan acara, kini beralih menjadi narasumber.
Perempuan yang meraih gelar Ph.D dari Department of Anthropology, State University of New York tahun lalu ini menjelaskan temuan riset etnografinya di Desa Ranu, Kepulauan Tamparang, Sulawesi Selatan.
Menurut Ira, dari risetnya selama 7 bulan, pulau terpencil tidak berarti terisolasi dan terasing. Di pulau yang ditinggali oleh masyarakat suku Makassar mayoritas beragama Islam dengan jumlah 1.114 orang tersebut masih terjadi pertukaran informasi dan pengetahuan.
Masyarakatnya juga hidup dengan cara yang merepresentasikan prinsip-prinsip feminisme. Namun dibalik itu, Desa Ranu masih membutuhkan pemberdayaan untuk dapat lebih berkembang.
Potensi dan Ketertinggalan Desa Ranu
Butuh sekitar dua jam dari Makassar menggunakan perahu joloro menuju Desa Ranu. Lamanya perjalanan sepadan dengan sambutan hangat dari masyarakat setempat untuk Ira, yang biasa dipanggil anak-anak hingga orang tua di sana ‘Mbak Ira’.
Masyarakat Desa Ranu yang ramah juga terpapar oleh ragam suku di Indonesia dan jauh dari narasi masyarakat yang naif dan terbelakang.
Hal tersebut dimungkinkan karena adanya satu tower provider yang membuat internet masuk ke desa tersebut. Sehingga kehidupan bermasyarakat di sana pun dapat berjalan dengan dinamis.
Didominasi oleh paling tidak 95 persen petani rumput laut dan nelayan, hasil laut menjadi komoditas utama Desa Ranu.
Tanpa adanya pengolahan, hasil laut seperti rumput laut dan kepiting langsung dibawa ke darat untuk dijadikan makanan maupun minuman. Komoditas mereka tersebut juga dibawa ke luar pulau dan bahkan dinikmati oleh masyarakat global.
Masyarakat Desa Ranu turut ambil bagian atas masifnya pemesan hasil laut secara daring, utamanya di Indonesia. Mereka yang merantau dan kembali ikut menjadi agen penyebar informasi dan pengetahuan akan komoditas tanah kelahiran mereka.
Sayangnya, informasi yang marak beredar tidak didukung oleh kurir yang mampu masuk ke Desa Ranu untuk membantu penyaluran hasil laut.
Sehingga, pengantaran barang yang masuk dan keluar setelah terjual biasanya diproses secara kolektif dan dilakukan oleh pengunjung atau warga yang hendak berkunjung ke maupun bertolak dari desa tersebut.
Desa Ranu, yang terdiri dari 3 dusun bersekat sumur komunal dan jembatan, juga memiliki keterbatasan air tawar dan listrik. Ira menceritakan pengalaman mandi menggunakan air laut di sana.
Air laut kemudian harus dibilas oleh air tawar yang disiapkan dalam kemasan jerigen untuk dibawa mandi. Sementara itu, listrik datang dari penggunaan solar panel dan genset.
Dengan listrik, masyarakat Desa Ranu dapat menambah wawasan mengenai kondisi dunia luar melalui tontonan di televisi. Akan tetapi, tidak semua warga dapat menikmati listrik.
Masih ada masyarakat di Desa Ranu yang rumahnya tidak dialiri listrik. Sehingga mereka terpaksa menggunakan cepo-cepo, yakni sumbu api, dan senter.
Akses transportasi yang buruk menjadi masalah berikutnya yang dialami oleh Desa Ranu. Tinggal di wilayah kepulauan, semua penduduk Desa Ranu memiliki perahu.
Sayangnya perahu yang ada berbeda dengan perahu Joloro; alat transportasi yang mudah digunakan untuk perjalanan menuju dan datang dari daratan.
Akibatnya, untuk membeli kebutuhan sehari-hari saja masyarakat perlu pergi ke dua pasar yang berbeda dengan jam operasional yang hanya melayani pembeli setiap 4 hari sekali.
Salah satu solusinya adalah menumpang perahu yang dimiliki oleh pedagang. Sayangnya jasa tersebut juga tidak jelas imbal jasanya. Penumpang dapat membayar seikhlasnya hingga puluhan ribu Rupiah.
Fasilitas lainnya, seperti ruh sakit dan sekolah juga memprihatinkan. Kebutuhan medis warga Desa Ranu hanya dipenuhi oleh puskesmas pembantu yang kondisinya memprihatinkan.
Gedungnya hampir roboh sehingga para petugas medis, seperti bidan, seringkali berinisiatif dengan mendatangi rumah-rumah warga untuk memberikan bantuan pengobatan.
Sementara itu, terdapat 3 sekolah yang kondisinya juga buruk. Para siswa SMA ada yang terpaksa menumpang di gedung SMP. Hal tersebut dikarenakan kerusakan pada sekolah mereka membuat kegiatan belajar mengajar sangat tidak layak dilaksanakan di sana.
Jumlah guru yang terbatas juga menjadi hambatan peningkatan kualitas pendidikan di Desa Ranu. Para guru yang didatangkan daratan belum tentu mampu hadir setiap harinya.
Selain cuaca buruk yang mampu menghambat perjalanan kapal mereka, terkadang para guru memilih prioritas lain untuk dilakukan selain mengajar. Akibatnya, para siswa seringkali tidak mendapatkan hak pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan.
Kesetaraan dan Kekerasan Berbasis Gender di Desa Ranu
Dibalik pemberdayaan masyarakat dan fasilitas yang dibutuhkan oleh Desa Ranu, pemikiran masyarakatnya cukup progresif dan mengedepankan kesetaraan gender dalam beberapa aspek.
Kekerasan fisik, berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan Ira sebagai seorang perempuan dari luar wilayah, adalah nihil. Begitu pula kekerasan verbal yang tergolong minim.
Menariknya, seluruh perempuan yang diberikan kesempatan mengontrol keuangan rumah tangga. Para suami langsung memberikan hasil keringatnya sepenuhnya kepada pihak perempuan dan hanya memintanya jika diperlukan.
Laki-laki juga turut mengambil peran dalam rumah tangga seperti menjaga anak, memasak, dan lainnya. Mereka berani bertransformasi meskipun menerima ‘pampidokan’, istilah ejekan untuk laki-laki yang tidak berpenampilan maskulin.
Mereka tidak mempermasalahkan para istri yang terpapar pemahaman feminisme serta belajar dari perempuan desa lain yang bisa mengoperasikan perahu, menyalakan genset, dan memanen rumput laut.
Majunya pemikiran masyarakat Desa Ranu akan kesetaraan gender bahkan membuat Ira, yang saat ini berkarir sebagai Postdoctoral Researcher of POWERE (Participation of Women in Renewable Energy), diminta menjadi penceramah setelah salat isya dan sebelum salat tarawih.
Selain momentumnya bertepatan dengan bulan Ramadan, kesempatan tersebut menjadi semakin bermakna karena Ira diberi ruang sebagai penceramah perempuan pertama di Desa Ranu.
Walaupun tidak pernah mengklaim diri sebagai feminis dan mungkin belum mengenal istilahnya, masyarakat Desa Ranu mempraktikan feminisme yang berangkat dari pengalaman sehari-hari.
Ironisnya, di balik kemajuan pemikiran masyarakat Desa Ranu, bentuk-bentuk ketidakadilan masih ada dalam masyarakat jika menggunakan pisau analisis feminisme. Masyarakat Desa Ranu pun meyakininya sebagai norma-norma sosial.
Salah satunya bentuk ketidakadilan dan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Ira melihat terjadinya perjodohan dan perkawinan anak yang seringkali menjadi wujud dari kawin lari di Desa Ranu.
Baca juga: Akses Aborsi untuk Semua
Normalisasi kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di Desa Ranu tentunya memiliki potensi yang berdampak negatif.
Perspektif Antropologi dan Feminisme untuk Meningkatkan Kualitas Kehidupan di Desa Ranu
Merespons kondisi Desa Ranu, implementasi antropologi dan feminisme dapat menjadistrategi yang baik. Melihat masyarakat adat, antropologi sendiri belum tentu mampu memberdayakan mereka.
Hal ini disebabkan oleh cara pandang antroplog klasik yang bias ketika berbicara mengenai masyarakat pulau terpencil.
Menurut Ira, jika ada pertukaran uang dan penduduknya berpenampilan modern, maka masyarakat Desa Ranu dianggap tidak cukup pantas dengan label masyarakat adat.
Akibatnya, berbagai bantuan dengan cakupan nasional hingga internasional tidak akan mempertimbangkan dukungannya.
Antropologi yang menjejak lebih tepat untuk diterapkan di wilayah seperti Desa Ranu. Hal tersebut dikarenakan dinamika masyarakat setempat tidak sesuai jika disandingkan dengan tolok ukur keilmuan antropologi saja, utamanya antropologi klasik.
Untuk itu, perspektif feminisme dapat membantu dengan sudut pandang interseksionalitas yang tidak meminggirkan masyarakat adat.
Pada akhir diskusi, Ira berharap agar tidak ada sudut pandang yang penuh penghakiman. Prasangka buruk dan potensi melabeli pihak lain dapat mempersulit kedua disiplin ilmu tersebut, antropologi dan feminisme, dalam bersinergi untuk dapat membantu mereka yang membutuhkan.
Sebagai saran, Ira berharap feminis dan antropolog dapat membuka dialog dengan berbagai kalangan dan mencari data agar mampu memecahkan masalah dan semakin memberdayakan masyarakat di Desa Ranu.[]
Posting Komentar untuk "Perlunya Feminisme Akar Rumput dan Perspektif Antropologi dalam Pemberdayaan Desa Ranu"
Mohon tidak menyisipkan tautan apapun ke dalam komentar karena dianggap spam. Terima kasih, ditunggu kembali kunjungannya :)