![]() |
| Ibu Membuktikan bahwa Cinta Sejati Tak Melulu dari Pasangan Hubungan Romantis |
Ibu Membuktikan bahwa Cinta Sejati Tak Melulu dari Pasangan Hubungan Romantis
Oleh: Rezha Rizqy Novitasary
Saya menikah di usia 35. Itu berarti, selama 34 tahun saya menjalani pengalaman sebagai perempuan lajang.
Jika konsep cinta sejati hanya
ditemukan lewat pasangan dalam hubungan romantis, tentu saja selama itu pula
saya tak punya cinta sejati. Bukankah hal itu mengenaskan?
Saya jadi teringat film Frozen dan Maleficent. Pada film Frozen,
Anna akhirnya menyadari bahwa ternyata Elsalah cinta sejatinya. Bukan Cristoff
apalagi pangeran manipulatif itu.
Begitu pula Maleficent, ia akhirnya menyadari ternyata ia sendirilah cinta sejati Aurora. Ia sendirilah yang mematahkan kutukan yang ia buat.
Padahal ia pernah begitu percaya diri, “True love never exists.” Konsep
cinta sejati yang ditawarkan kedua film Disney tersebut, ternyata begitu saya
sukai.
Mengingat ke belakang, saya mengenang sosok ibu saya. Beliau seorang yang keras, saya sering dimarahi habis-habisan.
Tak terhindarkan
saya dicetot dan dijewer ketika melakukan kesalahan. Kebetulan ibu adalah anak
pertama nenek, dan sayalah anak pertama ibu.
Beban Pengasuhan yang Berat
Jika digambarkan pada situasi sekarang, cara mendidik ibu mirip gaya parenting VOC ala Lek Damis, yang jauh berbeda dengan gaya parenting ala Nikita Willy.
Kondisi itu membuat saya pernah begitu sebal kepada ibu dan blaming her.
Tapi, saya akui tak bisa membenci apalagi menjauhinya.
Sebab ibulah yang mengantarkan saya ke toko buku bekas dengan sedikit uang yang ia peroleh dari hasil jualan toko kelontong di rumah.
Saat itu, kami tak punya cukup uang untuk membeli buku paket sekolah yang baru.
Ibu juga yang mendahulukan kepentingan anaknya daripada keinginannya sendiri.
Ibulah yang mengajari saya menulis, menggambar, dan mengeja
huruf hijaiyah. Semasa saya kecil, ibu sepenuhnya ibu rumah tangga yang selalu
ada buat anak-anaknya. Saya ingat, suatu malam, ibu pernah mendongeng Kancil
Nyolong Timun.
Namun, karena ia mengantuk berat, lalu jatuh tertidur, ia pun melantur. Dongeng itu pun jadi berbelok arahnya. Saat itu saya menertawakan ibu.
Belasan tahun setelahnya, barulah saya paham beratnya beban pengasuhan dan
kerja domestik yang ditanggung ibu, yang menjadi penyebab kelelahannya.
Kendati tidak bisa membencinya, saat itu saya belum sepenuhnya mencintai ibu. Bagi saya hubungan dengan ibu semacam Love-Hate Relationship.
Apalagi saat teori parenting terbaru booming di media sosial. Ibu
tampak seperti monster yang selama ini menjadi penyebab trauma saya.
Tapi, sebuah peristiwa dua tahun lalu menyadarkan saya salah. Saat itu saya belum menikah, ibu ditemukan jatuh di kamar mandi, dan tak sadarkan diri.
Ia cepat ditangani. Dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa
ada pendarahan di otaknya dan harus segera dioperasi. Ketika itu, dunia saya
berhenti seketika.
Saya hanya bisa menangis menciumi pipi ibu yang tak sadar
sebelum masuk ruangan operasi. Sepanjang lampu ruang operasi menyala, saya
hanya bisa membaca surat Yasin berkali-kali dengan air mata berderai di pipi.
Tanpa sadar, hati saya berkata. “Jika boleh, saya ingin
menukar semua doa yang sedang saya tunggu dengan satu doa untuk kesembuhan
ibu.”
Ibu selamat dari maut. Namun, hati saya begitu hancurnya melihat dari kejauhan. Tubuh tuanya dipenuhi selang-selang di ruang ICU dalam kondisi koma.
Dokter bilang, perlu waktu 3-5 hari untuk sadar pasca operasi
pendarahan otak.
Saat itu setiap menit terasa berharga. Saya selalu bertanya
perkembangan ibu kepada perawat. Hati saya patah saat mendengar kesadarannya
sempat menurun, lalu kembali bersyukur saat perawat bilang ibu sudah bisa BAB
dan mulai memberi respons.
Singkat cerita, bagaimana memori saya tentang saat sekujur
tubuh ibu, dipenuhi alat medis, waktu itu juga saya sadar bahwa dari tubuh
rapuhnya itulah, saya bisa menjadi diri saya sekarang.
Pada hari itu, yang terkenang bukanlah saat ibu memarahiku
atau mengkritikku. Tapi justru kenangan-kenangan indah tentang apa yang telah
diberikan ibu. Betapa saya merasa belum banyak waktu bisa menyenangkannya.
Saat itu saya berdoa, semoga masih diberi waktu dan
kesempatan, untuk bisa berbakti kepada ibu dan mengajaknya jalan-jalan
berdua.
Kesempatan Kedua
Saya bersyukur, Allah memberi kesempatan itu. Kesadaran ibu
berangsur-angsur pulih. Ia sudah bisa menelan bubur sumsum dan minum susu lewat
mulutnya. Alat bantu pun dilepas satu-satu, hingga akhirnya ibu diizinkan
pulang.
Sesampai di rumah saya menangis tergugu melihat baju-baju yang sudah dilipat rapi sebelum disetrika. Ibu selalu membereskan apapun yang ada di rumah. Baju yang menggantung. Masakan di meja makan.
Kamar mandi yang
bersih. Rumah dan cucian yang menumpuk, semuanya beres di tangan sakti ibu.
Melihat ibu kembali ke rumah dalam kondisi berbeda, sangatlah kontras
kondisinya.
Waktu berjalan seiring perasaan saya yang berubah. Beberapa bulan kemudian ibu berangsur pulih. Ia telah bisa kembali berjalan sambil berpegangan tongkat. Momen itu tak mau saya lewatkan.
Setiap pulang di akhir
pekan, saya memeluknya sembari tidur di sampingnya. Sesekali saya menciumi
pipinya. Hal yang nyaris tak pernah saya lakukan saat ibu sehat dulu. Saya
mulai merasa kehangatan di hati saat ada di sisinya.
Bahkan saat saya jauh, saya selalu menelponnya dan
mengajaknya ngobrol. Sambil tak sabar menunggu akhir pekan agar bisa kembali
pulang.
Ibulah ternyata yang menjadi cinta sejati saya. Ia selalu
ada di sisi saya saat masa terburuk, dan mengerahkan apapun yang ia punya untuk
mendorong saya maju. She’s the one who is always fighting for me.
Kini, saya memahami sikap keras ibu dengan sudut pandang yang berbeda. Ibu menanggung intergenerational trauma dari orang tua yang juga keras.
Sebagai anak pertama perempuan, otomatis ibulah yang paling terdampak di
antara saudara-saudaranya. Dan, sebagai anak perempuan pertama, trauma itu juga
terwariskan kepada saya.
Saat itu saya menyadari. Kesembuhan mental saya adalah tanggung jawab saya. Namun, kehadiran dan kesempatan bersama ibu, adalah hal terbesar dalam hidup yang akan selalu saya syukuri. Karena, sekali lagi ibu adalah cinta sejati saya.[]
.png)
Posting Komentar untuk "Ibu Membuktikan bahwa Cinta Sejati Tak Melulu dari Pasangan Hubungan Romantis"
Mohon tidak menyisipkan tautan apapun ke dalam komentar karena dianggap spam. Terima kasih, ditunggu kembali kunjungannya :)