![]() |
| Mengupayakan Isu Gender dari Ruang Nyaman |
Menjemput dan Mengupayakan Kepedulian akan Isu Gender dari Ruang Nyaman
Oleh: Khalilatul ‘Azizah
Peduli itu tidak mudah. Sebelum masuk menyuarakan soal keadilan gender, barang tentu saya harus tahu dulu duduk persoalan berikut materi tebal mengenai isu tersebut.
Karena inkompetensi bahayanya berlipat
ganda. Secara teori isu gender memang tidak sederhana, tapi membangun
kepedulian aktif tak kalah sulitnya.
Saya tumbuh di ruang keluarga yang demokratis. Orang tua
kami memberi kebebasan serta kesempatan yang sama bagi anak laki-laki dan
perempuan mereka untuk mengenyam pendidikan, berkarir, hingga memilih pasangan.
Urusan domestik juga tak hanya dibebankan kepada perempuan.
Tentu ini hal yang saya syukuri. Namun di sisi lain, hal ini pula yang boleh
jadi membuat saya merasa lama panas dan berjarak dengan masalah ketimpangan
gender.
Sepertinya, saya termasuk ke dalam spektrum gagasan Ester
Lianawati dalam bukunya “Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan”,
di mana keterasingan saya terhadap persoalan gender adalah akibat selubung
patriarki yang kelewat lama mendikte kehidupan perempuan.
Membuat kebanyakan perempuan merasa normal dan seolah tak
ada yang salah di tengah realitas sosial yang sebetulnya menindas mereka.
Dari buku itu saya mulai menyisir isu gender untuk menyemai kepedulian. Perjuangan mengupayakan kesetaraan bukan rangkaian pengalaman heroik dan mentereng dalam kasus saya.
Namun, dimulai dari upaya personal
nyaris sunyi dalam menggugat kesadaran diri.
Menulis dengan Perspektif Gender
Dalam perjalanan menulis sejak tahun 2020, pada gilirannya saya pun menemukan bahwa semua urusan sosial-keagamaan yang saya tulis selalu beririsan dengan isu perempuan.
Untuk itu, memahami persoalan gender rasanya
tidak bisa ditawar dari kerja-kerja kepenulisan dan pengajaran yang saya
jalani.
Mendengarkan pengalaman orang adalah pintu masuk lain untuk
memupuk rasa peduli. Kira-kira empat tahun lalu saya baru mengetahui dari
seorang teman penyintas bahwa sunat perempuan itu ada, banyak, dan membudaya.
Lebih-lebih pandangan keagamaan ternyata punya andil besar terhadap keberadaan praktik sunat perempuan ini.
Saya pun coba hadir di
sejumlah forum, berdiskusi mengurai isu tersebut sebagai ikhtiar kecil untuk
turut menyuarakan agar praktik sunat perempuan dihentikan.
Di lain waktu, saya berkesempatan menulis persoalan mengenai kerja perawatan (care work) dan care economy yang dikampanyekan oleh International Labour Organization (ILO).
Saya coba menulisnya dari sudut pandang keislaman yang jadi bidang saya.
Sebagai temuan, Islam sangat
menghargai aktivitas kerja, mendorong jaminan keamanan hingga upah layak dan
tepat waktu bagi pekerja, juga koreksi terhadap bias gender dalam kerja
perawatan lewat praktik kolaboratif yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw dalam keluarga beliau.
Selama ini kerja-kerja perawatan seperti memasak,
berbelanja, mencuci, merawat anggota keluarga yang sakit, dan mengurus anak
tidak dipandang punya nilai ekonomi dan serta dinilai bukan kerja produktif.
Beban kian menindih perempuan karena kerja perawatan kerap
diasumsikan sebagai tugas gender perempuan, tanpa ada penghargaan yang layak.
Padahal, reproduksi sosial akan terhambat apabila kerja-kerja perawatan tak
tertunaikan.
Nilai tinggi dan produktivitas dari kerja perawatan
betul-betul saya sadari ketika ibu mendadak sakit pada medio 2023 lalu dan
harus istirahat panjang untuk pemulihan selama kurang lebih enam bulan. Rasanya
kocar-kacir sekali kondisi reguler keluarga karena ibu tumbang.
Kami seperti kehilangan kiblat karena banyak hal di rumah
selama ini dikomandoi oleh ibu. Satu contoh misalnya aktivitas ibu mengasuh
cucu yang masih berusia dua tahun kala itu.
Betapa panjang mata rantai dampak sakitnya ibu terhadap
urusan perawatan. Saudari saya, (ibu dari balita itu) tersebut, harus bergegas
mencari tempat penitipan anak karena dia dan suaminya sama-sama bekerja.
Untuk itu, ada pengeluaran bulanan tambahan untuk biaya daycare.
Meskipun saat diasuh ibu pun, saudari saya juga tetap rutin memberinya uang
sebagai penghargaan dan tanda kasih.
Komunitas Puan Menulis
Selain menyaksikan sendiri perjuangan perempuan di rumah, Komunitas Puan Menulis menjadi kanal belajar saya berikutnya untuk mendongkrak kepedulian atas kesetaraan gender.
Selain menjadi ruang yang suportif,
saya mendapat kesempatan berjejaring dan kecipratan agenda-agenda yang
mendekatkan saya dengan persoalan gender.
Hal lain yang bisa saya lakukan adalah turun ke jalan ikut
unjuk rasa serta mendatangi Aksi Kamisan. Bagi saya, menulis keluar-masuk teks
saja rasanya belum cukup. Bertemu dengan realitas menjadi kebutuhan untuk
menguatkan pemahaman dan membangun keterhubungan dengan isu.
Tidak hanya dari komunitas Puan Menulis, dunia kerja pada gilirannya memberi pengalaman personal tentang bagaimana perempuan belum cukup mendapat ruang sebebas laki-laki.
Suatu ketika, tawaran menjadi pengajar tetap
di suatu sebuah sekolah (pesantren) pernah saya dapat.
Namun setelah pertimbangan lebih luas dari para pihak
terkait, keesokan harinya tawaran itu dianulir karena frekuensi kehadiran saya
akan lebih banyak, sementara yang diajar adalah murid laki-laki.
Saya menduga, keberadaan perempuan yang terlalu intens di
tengah siswa laki-laki dinilai kurang tepat dalam kacamata keagamaan. Itu
sebatas refleksi dan pembacaan saya tanpa bermaksud merendahkan keputusan pihak
terkait.
Tentu sempat kecewa, tapi kejadian ini justru jadi pengalaman berharga yang mengisi data personal saya tentang ragam isu gender.
Bagaimanapun, saya masih bisa tetap mengajar di sekolah tersebut—dengan
frekuensi sekali sepekan—berkesempatan untuk berdiskusi dan menginternalisasi
ide-ide kesetaraan serta inklusi kepada anak-anak.
Nabi Berpihak pada Kelompok Rentan
Dari pengalaman-pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa kepedulian bukan sebuah kado, tapi perihal yang perlu diupayakan. Dalam ajaran agama, lewat penuturan Nabi Muhammad, saya belajar untuk sadar privilese.
Nabi bilang agar umatnya mengamati dan merefleksikan kondisi
orang-orang yang ada di bawah mereka. Selain memuat pesan untuk bersyukur,
sabda itu juga mendorong kesalehan sosial agar kita peduli pada nasib
sesama.
Punya akses ke ragam bacaan, akses terhadap kesempatan
berjejaring dan berkegiatan di kota besar seperti Jakarta—tempat saya bekerja—,
hingga keberuntungan dibesarkan oleh orang tua yang memberi teladan adil gender
dalam keluarga adalah privilese saya. Yang boleh jadi adalah perkara mahal bagi
yang lain.
Dan untuk itu, rasanya ada tanggung jawab moral untuk
membagi privilese tersebut dengan cara mengusahakan ruang setara bagi mereka
yang tertindas dan termarjinalkan.
Membaca buku, menyimak pengalaman orang lain, menulis, serta
mendekatkan diri dengan gerakan yang mengadvokasi keadilan menjadi upaya
berbenah diri, dan mengasah kepekaan, dan meningkatkan kepedulian atas isu gender.
Perjuangan saya menuju kesetaraan semacam fragmen respons terhadap masukan-masukan persoalan yang saya tangkap.
Jalur yang kemudian bisa saya lalui untuk ambil bagian dalam mengarusutamakan ide-ide kesetaraan adalah dengan menulis dan mengajar.[]
.png)
Posting Komentar untuk "Menjemput dan Mengupayakan Kepedulian akan Isu Gender dari Ruang Nyaman"
Mohon tidak menyisipkan tautan apapun ke dalam komentar karena dianggap spam. Terima kasih, ditunggu kembali kunjungannya :)