Kalis Mardiasih: Suara Feminis Muslimah dari Blora untuk Indonesia

Kalis Mardiasih: Feminis Muslimah dari Blora untuk Indonesia (Dok: Pribadi)
                                                               

Kalis Mardiasih: Suara Feminis Muslimah dari Blora untuk Indonesia

Oleh: Hasna Azmi Fadhilah

Pembentukan Diri dan Titik Balik Intelektual

Kalis Mardiasih lahir di Blora pada 16 Februari 1992. Kini dikenal sebagai aktivis gender muslim, Kalis menempuh perjalanan intelektual yang tidak terbentuk secara instan.

Sebelum vokal memperjuangkan hak perempuan, Kalis aktif di rohis semasa SMA dan mengikuti kajian kampus yang yang sarat dengan narasi konservatif, terutama terkait isu perempuan.

Seiring berjalannya waktu, ia tertarik bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), di mana ia diperkenalkan dengan perspektif gerakan yang memiliki spirit membantu kelompok lemah dan yang dilemahkan.

Seiring perjalanannya di kampus, Kalis mulai berjumpa dengan bacaan-bacaan yang menggugah kesadaran kritisnya—terutama karya-karya penulis feminis seperti Nawal El Saadawi dengan Perempuan di Titik Nol-nya.

Selain dipengaruhi bacaan, ia juga menghadapi pertanyaan-pertanyaan bernada menghakimidari senior atau kawan yang mempersoalkan jilbabnya yang dianggap tidak lagi syar'i, atau sekadar karena ia memakai celana, semakin menajamkan titik kritis Kalis dalam menyikapi identitasnya sebagai perempuan muslimah.

Nalar kritis itu semakin menguat ketika ia bertemu dengan para ulama perempuan di Kuala Lumpur, di mana ia belajar mengenai perjuangan gender dalam Islam dan menyadari bahwa isu ini diperjuangkan jauh lebih banyak orang dari yang ia bayangkan.

Kepindahannya ke Yogyakarta membuka babak penting berikutnya. Di sana ia mengenal Jaringan GUSDURian, yang ia temui pertama kali melalui isu lingkungan Kendeng-sebuah isu yang dekat di hati karena ia berasal dari Blora yang wilayahnya turut terdampak.

Ia menjadi bagian dari Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian yang menghidupkan semangat perjuangan pluralisme dan keadilan gender Gus Dur. 

Dari jaringan inilah ia kemudian diminta menjadi tim media Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), yang memperluas dan memperdalam pemahamannya tentang gender dan Islam.

Penulis, Aktivis, dan Pemikir

Kalis aktif menulis kolom opini dengan perspektif gender dan agama untuk surat kabar lokal maupun publikasi daring, serta terlibat dalam berbagai organisasi yang berfokus pada isu perempuan dan anak. 

Tulisannya mulai menjangkau publik luas melalui esai berjudul "Sebuah Curhat Untuk Girlband Hijab Syar'i yang terbit di Mojok.co dan dibagikan lebih dari 17 ribu kali. 

Sejak saat itu, narasi dalam tulisan-tulisannya tak pernah bergeser jauh dari isu tubuh, jilbab, kemanusiaan, dan religiusitas perempuan.

Kalis telah menerbitkan lima buku dengan total penjualan lebih dari 20 ribu eksemplar, di antaranya Berislam Seperti Kanak-kanak, Muslimah yang Diperdebatkan (2019), Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar! (2019), dan ister Fillah, You'll Never Be Alone! (2020), Parenting di Negara Gagal (2026). 

Artikel Kalis yang berjudul "Don't Let Women Left Behind" juga masuk nominasi Anugerah Swara Saraswati dari Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi pada 2018, dalam kategori esai jurnalistik media daring terbaik.

Selain menulis, Kalis menjalankan kelas independen @kelas.kalis yang telah menjelajah berbagai kota di Indonesia, berfokus pada literasi media digital Islam dan dampak sikap keagamaan berbasis gender terhadap perempuan. 

Bersama Jaringan nasional GUSDURian, ia memetakan tantangan, memfasilitasi pelatihan, dan memproduksi konten untuk platform "Indonesia Rumah Bersama" sebagai respons atas meningkatnya ujaran kebencian di media digital.

Aktivisme di Tengah Gejolak Sosial Politik

Melalui tulisan dan kerja-kerjanya, Kalis tidak hanya membangun wacana, tetapi juga terlibat langsung dalam dinamika sosial-politik yang memengaruhi gerakan perempuan. 

Dalam aktivismenya, Kalis menyadari bahwa gerakan perempuan tidak pernah lepas dari dinamika sosial-politik yang lebih luas.

Perubahan rezim yang terus bergulir membuat agenda gerakan perempuan ikut bergeser—terutama dalam konteks kekuasaan yang dekat dengan militerisme, yang kerap membuat isu perempuan tersingkir dari perhatian publik. 

Ia juga menyadari bahwa yang dihadapi gerakan perempuan kini bukan hanya pemerintah yang otoriter, melainkan juga kalangan tokoh agama populis dan oportunis yang dekat dengan penguasa.

Dalam banyak kesempatan, Kalis menyaksikan bagaimana dai-dai kondang menormalisasi candaan seksis—mulai dari tema poligami hingga objektifikasi terhadap perempuan. 

Bahkan dalam forum bertema hak asasi manusia pun, ia masih menemukan pemimpin politik yang membuka sambutan dengan candaan seksis untuk mengundang tawa.

Bagi Kalis, gerakan perempuan masih menghadapi pekerjaan rumah yang panjang selama para role model masyarakat masih mewajarkan hal semacam itu.

Media Sosial sebagai Arena Perjuangan

Di Instagram, Kalis memiliki lebih dari 227 ribu pengikut. Di Twitter/X, ia diikuti lebih dari 190 ribu akun. 

Dalam mengelola akun media sosialnya, Kalis secara sadar Menyusun strategi agar jangkauannya luas—memilih kata dan bahasa yang mudah dipahami public luas, termasuk orang muda. 

Ia dikenal sebagai salah satu dari sedikit perempuan muslim yang punya keberanian menyuarakan keberatan terhadap ortodoksi keagamaan ketika hal itu tidak menghormati hak-hak perempuan dan anak perempuan.

Meski begitu, perjuangan di ranah digital bukan tanpa risiko. Kalis kerap menerima serangan daring, mulai dari character assassination, body shaming, hingga doxxing. 

Ancaman tersebut membuatnya lebih berhati-hati, tetapi tidak pernah menyurutkan keberaniannya untuk terus bersuara. Selain memproduksi konten digital, Kalis juga terlibat langsung dalam kerja-kerja di tingkat akar rumput.

Dalam perjumpaannya dengan kelompok ibu PKK di tingkat desa, Kalis menemukan bahwa kesadaran kritis perempuan mulai tumbuh, termasuk di komunitas yang selama ini kerap dipinggirkan. 

Namun, kesadaran kritis tersebut belum selalu bertransformasi menjadi gerakan nyata yang mampu mengubah norma sosial.

Dalam banyak kasus, situasi ini justru memunculkan bentuk tekanan baru. Perempuan yang berupaya mandiri tetap dihadapkan pada tuntutan sosial yang kaku: menikah dan memiliki anak dianggap sebagai prasyarat utama untuk diterima dalam lingkungan masyarakat.

Visi ke Depan

Kalis berkomitmen untuk terus menulis dan menyuarakan isu perempuan dalam Islam seperti halnya ngaji KGI yang didirikan oleh Bunyai Nur Rofiah.

Ia membayangkan suatu hari ceramah di musala tidak lagi dipenuhi konten seksis atau candaan tentang poligami. Namun, visinya tidak berhenti pada perubahan di tingkat lokal.

Salah satu kegelisahan terbesar Kalis adalah minimnya pengakuan terhadap pengalaman Islam Indonesia dalam percakapan global tentang Islam dan gender. 

Di berbagai forum internasional, terutama dalam konteks Global South, suara dan tradisi intelektual Islam Indonesia kerap absen dan terpinggirkan.

Padahal, Islam Indonesia menyimpan potensi besar sebagai model kehidupan bersama yang inklusif.

Tradisi Islam Nusantara yang inklusif, pluralis, dan akomodatif terhadap hak perempuan telah hidup dalam praktik. Hal ini tercermin dalam kerja-kerja KUPI dan jaringan GUSDURian, yang menghadirkan Islam sebagai tawaran peradaban yang nyata, bukan sekadar retorika.

Sayangnya, tawaran itu belum cukup terdengar dalam percakapan muslim global. Karena itu, Kalis memilih untuk terus menulis—bukan hanya untuk pembaca Indonesia, tetapi juga untuk menjangkau audiens global. 

Ia ingin gagasan tentang feminisme muslim yang berakar pada tradisi lokal Indonesia menjadi referensi bagi gerakan perempuan muslim di berbagai belahan dunia, dari Afrika Barat hingga Asia Selatan.

Sebuah upaya untuk menjawab pertanyaan yang terus bergema: bagaimana menjadi perempuan muslim yang utuh, merdeka, berdaya, dan tetap beriman. 

Selama tafsir agama masih digunakan untuk membungkam, suara seperti Kalis akan selalu dibutuhkan. Bukan untuk melawan iman, melainkan untuk memastikan bahwa keimanan tidak pernah menjadi alasan bagi ketidakadilan untuk terus diwariskan.[]


Posting Komentar untuk "Kalis Mardiasih: Suara Feminis Muslimah dari Blora untuk Indonesia"