
POV CEO Perempuan Yang Ikut Memantau Mahasiswa Turun Ke Jalan
POV CEO Perempuan Yang Ikut Memantau Mahasiswa Turun Ke Jalan
POV CEO Perempuan Yang Ikut Memantau Mahasiswa Turun Ke Jalan
Oleh:Retno Daru Dewi G. S. Putri
Jumat, 12 Juni 2026 kira-kira pukul 10.25 WIB mobil saya
memasuki Kampus Universitas Indonesia di Depok. Sebelum berbelok ke Fakultas
Ilmu Pengetahuan Budaya, terlihat pemandangan para mahasiswa yang sedang
bersiap-siap di parkiran Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik untuk berangkat
demo ke Bundaran H.I.
Bus-bus dan angkot-angkot sewaan sudah siap mengantar para pejuang yang akan menuntut pertanggungjawaban pemerintah akan kesengsaraan yang dipikul oleh masyarakat.
| Dok. Retno Daru Dewi G. S. Putri |
Dengan tajuk #MenujuIndonesiaBangkrut, BEM UI membawa 5 tuntutan; Setop Pemborosan APBN, Turunkan Harga Kebutuhan Pokok dan BBM, Hentikan Program MBG dan Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, Hentikan Militerisme di Ranah Sipil, dan Prabowo Berhenti Mengelak dan Mengakui Kesalahannya.
Dok. Retno Daru Dewi G. S. Putri
Salah satu akun media sosial yang saya pantau adalah milik teman saya, Angel Roberty. Biasa disapa Berty, alumni Komunikasi FISIP UI ini adalah seorang CEO dari AdONCE.
Perusahaan miliknya tersebut bergerak di
bidang creative marketing agency yang memproduksi kampanye
iklan dan materi periklanan.
Di tengah-tengah kesibukannya, Berty menyempatkan diri untuk
memantau situasi demonstrasi yang mewakili keresahannya sebagai masyarakat
kelas menengah dan pemilik sebuah Perusahaan.
Berty menjelaskan bahwa melemahnya rupiah, terus
bertambahnya jumlah pengangguran, degradasi kelas menengah, dan kenaikan
harga-harga barang akan semakin melemahkan daya beli masyarakat yang berdampak
pada berkurangnya belanja iklan secara signifikan.
Apabila ekonomi semakin terpuruk, ditambah kebijakan fiskal yang mencekik pengusaha, hal tersebut akan semakin menggerus bisnis.
Kehadirannya untuk memberikan dukungan moril bagi mahasiswa UI yang berdemo
menjadi bentuk penyampaian aspirasi terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang
mampu ia lakukan.
Alat Pengbungkam Aspirasi dalam Aksi Demonstrasi Itu Bernama Polisi
Pukul 15.30 WIB Berty dan ketiga orang temannya berjalan kaki menuju Bundaran H.I. Namun sesampainya di UOB Plaza pada pukul 16.00 WIB, mereka tidak bisa meneruskan perjalanan karena dihadang oleh polisi.
Tepat di depan UOB Plaza terlihat jelas barikade yang memisahkan polisi dan mahasiswa UI.
| Dok. Angel Roberty |
Berlebihan rasanya jika mahasiswa yang datang dengan damai dihadang dan dihadapi sedemikian rupa dengan senjata-senjata seperti itu.
Hal
ini juga menunjukkan pernyataan Polda Metro Jaya bahwa UI belum mengirim surat
pemberitahuan demo patut dipertanyakan.
Jika tidak ada surat, kenapa perlengkapan bisa disiapkan sekomplit itu?
|
| Dok. Angel Roberty 2 |
Upaya menuju Bundaran H.I. dilakukan secara persuasif oleh mahasiswa. Mereka justru memberikan kesempatan untuk polisi duduk menyimpan energi.
Berty juga menyangkal pemberitaan media yang mengabarkan bahwa
demonstrasi berjalan dengan rusuh.
Suasananya juga sangat berbeda. Para pekerja sibuk menuju halte dan stasiun untuk segera pulang ke rumah.
Menurut Berty, jika tidak
melihat ke arah UOB Plaza yang masih ramai, Sudirman nampak seperti hari Jumat
pada biasanya tanpa ketegangan akibat demonstrasi mahasiswa.
Demonstrasi Yang Dihambat, Praktik Demokrasi Yang Cacat
Selama menyaksikan demonstrasi, Berty bertanya-tanya; jika
ketika pemilu para pemimpin negara membutuhkan suara kita, rakyatnya, untuk
memenangkan kekuasaan, mengapa sekarang giliran kita yang bersuara tidak
didengar sama sekali?
Tidak pernah perwakilan pemerintah turun ke jalan untuk
menerima pendemo dan membuka dialog.
Berty juga membandingkan praktik demokrasi Indonesia dengan
Korea Selatan. Di sana demonstrasi adalah hal yang wajar dilakukan secara
rutin. Rakyat diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi mereka di muka
publik.
Jika pemerintah Indonesia tidak mau dikritik dan didemo,
maka sediakan kanal pengaduan yang baik. Namun dari pengalaman pribadi saya,
pelayanan yang baik baru bisa diwujudkan oleh bank atau perusahaan swasta
kepada pelanggan mereka.
Dari laporan pandangan mata yang diberikan oleh Berty pada demonstrasi yang dicetuskan mahasiswa UI minggu lalu, saya menyimpulkan bahwa pemerintah kita adalah pengecut.
Menghadapi mahasiswa yang bisa dilakukan
dengan berdialog malah dieksekusi dengan mengirimkan polisi dan tentara.
Hal ini sebenarnya menunjukkan trauma sisa Orde Baru, yakni
Presiden Prabowo, akan kekuatan mahasiswa yang mampu melengserkan Presiden
Soeharto 28 tahun silam. Jika tuntutan kita terus lakukan, potensi kemenangan
bisa saja ada di tangan rakyat.
Di sisi lain saya memaklumi mahasiswa yang tidak terlalu
memaksa melakukan perlawanan. Belajar dari yang sudah-sudah, penculikan
aktivis, penyiraman air keras, hingga teror lainnya bisa mengancam nyawa
mereka.
Namun, sebagai warga kelas menengah yang hanya bisa bertahan, mahasiswa lah yang selalu bisa kita andalkan. Panjang umur perjuangan, saya yakin kita segera akan menang.[]
Posting Komentar untuk "POV CEO Perempuan Yang Ikut Memantau Mahasiswa Turun Ke Jalan"
Mohon tidak menyisipkan tautan apapun ke dalam komentar karena dianggap spam. Terima kasih, ditunggu kembali kunjungannya :)