![]() |
Maskulinitas Toksik dan Budaya Diam
Yang Melindunginya |
Maskulinitas Toksik dan Budaya Diam Yang Melindunginya
Oleh: Novi Nurazizah
Maskulinitas toksik tidak selalu hadir dalam bentuk yang terlihat, seperti kekerasan fisik, ancaman, atau intimidasi.
Ia seringkali tampak biasa, seperti becandaan yang merendahkan,
ejekan yang dianggap lucu, kontrol yang digambarkan sebagai kepedulian, atau
perudungan yang dibingkai sebagai cara untuk “membangun karakter”.
Hal tersebut sudah merupakan bagian
dari konstruksi sosial yang melekat dalam masyarakat. Karena kebiasaan toksik
itu dinormalisasi, diwajarkan, jadinya banyak orang yang memilih untuk mengabaikannya.
Kita pasti pernah mendengar kalimat
seperti, “Cuma bercanda”, “namanya juga laki-laki”, “supaya mentalnya kuat”,
atau “jangan baper”. Kalimat-kalimat seperti ini sering muncul sebagai
tanggapan ketika seseorang merasa direndahkan, dipermalukan, diremehkan, atau
dikontrol.
Korban dibuat harus menerima begitu
saja atas posisi yang ditetapkan untuk mereka dan keberatannya dianggap tidak
penting dan tidak didengarkan.
Di titik inilah masalahnya menjadi
lebih besar. Maskulinitas toksik terus berlanjut bukan hanya karena ada orang
yang melakukan kekerasan, tetapi juga karena ada budaya diam yang
melindunginya.
Diam membuat tindakan tidak bermoral
tampak wajar. Pelaku merasa aman, sedangkan korban dibuat merasa sendirian.
Memahami Maskulinitas Toksik, Bukan Membenci Laki-laki
Ketika membicarakan maskulinitas
toksik itu bukan berarti menggiring untuk membenci laki-laki. Yang dikritik
bukan laki-laki sebagai manusia, tetapi kritik terhadap norma maskulinitas yang
membatasi empati dan ekspresi emosional.
Maskulinitas toksik identik dengan
dominasi, kekerasan, serta penolakan terhadap kelembutan dan kepedulian.
Sistem tersebut mengajarkan
laki-laki untuk dominan, harus selalu menampilkan kekuatan, tidak boleh lemah,
dan harus memegang kendali lingkungan sosialnya.
Norma-norma tersebut menjadi toksik
ketika digunakan untuk membenarkan tindakan merendahkan, mempermalukan,
mengendalikan, dan menyakiti orang lain.
Dalam masyarakat patriarkal,
laki-laki memiliki ruang yang lebih besar untuk memimpin dan mengambil
keputusan.
Persoalan muncul ketika posisi itu
dianggap sebagai hak untuk mendominasi. Kemudian mendorong laki-laki untuk
merasa lebih tinggi dari perempuan dan membenarkan tindakan diskriminatif.
Maskulinitas toksik sendiri merugikan laki-laki. Banyak laki-laki yang mengalami tekanan psikologis karena harus menghindari sifat peduli, menyembunyikan emosi, dan mengadopsi kekerasan sebagai bentuk keberanian.
Konsekuensinya, sifat feminitas dianggap lemah,
inferior, sementara pola perilaku agresif dianggap sebagai ukuran harga diri
laki-laki.
Kritik terhadap maskulinitas toksik
berarti mengkritik budaya yang mengutamakan dominasi laki-laki dan budaya pembatasan peran gender yang kaku.
Maka, tujuan utamanya adalah
terbentuknya pemahaman maskulinitas yang lebih inklusif, dimana subjektivitas
laki-laki tidak dibatasi oleh tuntutan hegemonik, tetapi bisa berkembang
menjadi bentuk yang lebih reflektif, bisa membangun hubungan yang sehat, dan
bertanggung jawab secara sosial.
Cara Maskulinitas Toksik Bekerja
Sering kali maskulinitas toksik
bekerja melalui relasi kuasa. Hal tersebut bisa muncul dimana saja, seperti
keluarga, hubungan romantis, organisasi, sekolah, kampus, tempat kerja, sampai
ruang digital.
Dalam relasi yang timpang, seseorang
yang mempunyai posisi yang lebih kuat atau tinggi bisa menggunakan status,
senioritas, jabatan, popularitas, atau bahkan gendernya untuk mengontrol orang
lain.
Situasi terdekat dengan kita di kehidupan sehari bisa dijadikan sebagai contoh. Seseorang yang mengatur pakaian, pertemanan, atau aktivitas pasangannya dengan alasan sayang, memperlihatkan sikap perhatian.
Lalu, seorang senior yang mempermalukan junior
di hadapan banyak orang dengan alasan melatih mental.
Seorang perempuan yang menyampaikan kritik atau pendapat dianggap terlalu emosional, sementara laki-laki yang memotong pembicaraan dianggap tegas.
Candaan seksis di ruang organisasi
dianggap humor, padahal secara sadar merendahkan pihak lain.
Selain relasi kuasa, perundungan juga menjadi salah satu cara maskulinitas toksik mempertahankan hierarki.
Orang
yang dianggap lemah, berbeda, terlalu feminin, memperlihatkan emosi, atau
melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan standar maskulin sering dijadikan
sasaran.
Mereka diejek, dipermalukan, atau
ditekan supaya mengikuti standar yang dianggap normal.
Perundungan tidak berdiri sendiri,
ia hadir karena lingkungan membiarkannya atau bahkan ikut menertawakan tindakan
yang justru melukai orang lain.
Ketika seseorang menyampaikan perasaan tidak nyamannya, respon yang muncul bukan empati, tapi justru dianggap berlebihan.
Ketika seseorang menolak candaan seksis, ia dianggap tidak santai,
tidak bisa diajak bercanda.
Padahal, yang disebut candaan yang
membuat seseorang merasa tidak aman dan tidak nyaman, sudah seharusnya kita
berhenti bilang bahwa itu hanya sekadar humor.
Budaya Diam
Diam kerap dianggap sebagai sikap
yang aman dan seolah-olah netral. Namun, dalam relasi kuasa yang timpang, diam
tidak pernah benar-benar netral.
Justru sikap demikian sering kali
menguntungkan pihak yang yang memiliki kuasa lebih besar. Ketika ketidakadilan
dibiarkan tanpa teguran, yang terjadi adalah pelanggengan terhadap impunitas.
Ketika candaan seksis tidak ditegur,
pelaku belajar bahwa ia boleh mengulanginya dan hal tersebut bukan merupakan
tindakan yang menimbulkan masalah.
Ketika korban perundungan diminta
bersabar, pelaku tidak akan pernah belajar bertanggung jawab. Ketika nama baik
pelaku lebih dijaga daripada keselamatan korban, keadilan sedang dikorbankan
atas nama kenyamanan bersama/sosial.
Budaya diam juga membuat korban
merasa ragu terhadap pengalamannya sendiri. Ia mulai bertanya, “Apakah aku
terlalu sensitif? Apakah aku yang salah? Apakah lebih baik aku diam saja?”
Pertanyaan-pertanyaan ini
menunjukkan betapa berat beban yang sering dipindahkan ke korban. Korban bukan
hanya menghadapi tindakan pelaku, tetapi juga menghadapi lingkungan enggan
menegur dan enggan berpihak.
Dalam banyak kasus, yang membuat
maskulinitas toksik bertahan itu karena kebiasaan lingkungan untuk menutup
mata. Inilah salah satu bentuk pembiaran yang berbahaya, ketika masyarakat
lebih mementingkan menjaga kenyamanan sosial, daripada memastikan korban merasa
aman.
Kita perlu bertanya, siapa yang sebenarnya dilindungi ketika korban diminta diam? Mengapa pelaku lebih mudah dimaklumi daripada korban dipercaya?
Jika keberanian bersuara dianggap sebagai
gangguan, makan yang dipertahankan itu adalah ketidakadilan yang dibungkus rapi
sebagai ketenangan bersama.
Dari Diam Menuju Keberpihakan
Membongkar maskulinitas toksik berarti berhenti menganggap dominasi, kontrol, dan perundungan sebagai hal yang biasa. Ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyalahkan satu atau dua orang.
Yang perlu dibongkar adalah budaya yang membuat kekerasan terlihat wajar
dan membuat korban merasa bersalah ketika berani bersuara.
Perubahan bisa dimulai dari hal-hal sederhana,
seperti menolak candaan seksis, tidak menyalahkan korban, menegur pelaku
perundungan, mendengarkan pengalaman korban, dan tidak melindungi pelaku atas
nama baik organisasi, komunitas, atau kampus.
Keberpihakan tidak selalu harus
dimulai dengan tindakan yang besar, tetapi ia harus dimulai dengan keberanian
untuk tidak ikut bungkam ketika ketidakadilan terjadi dan mulai ikut bersuara.
Relasi yang sehat tidak dibangun dari rasa takut, melainkan dari penghormatan terhadap kemanusiaan. Maka dari itu budaya diam harus dihentikan.
Sebab dalam setiap candaan yang merendahkan,
kontrol yang dimaklumi, dan perundungan yang dibiarkan, ada relasi kuasa
timpang yang sedang dilindungi.
Perubahan hanya mungkin terjadi
ketika kita berani berpihak, bukan pada kenyamanan pelaku, tetapi pada
keselamatan dan martabat korban. []
x
.png)
Posting Komentar untuk "Maskulinitas Toksik dan Budaya Diam Yang Melindunginya"
Mohon tidak menyisipkan tautan apapun ke dalam komentar karena dianggap spam. Terima kasih, ditunggu kembali kunjungannya :)