Belajar dari Perempuan Akar Rumput: Kepemimpinan Kolektif Melawan Stigmatisasi


Kepemimpinan Kolektif Melawan Stigmatisasi (Dok: Letss Talk)

Belajar dari Perempuan Akar Rumput: Kepemimpinan Kolektif Melawan Stigmatisasi

Oleh: Okta Nurul Hidayati

Sabtu, 27 Juni 2026 LETSS Talk (Let's Talk about SEX n SEXUALITIES) menyelenggarakan Feminist Thesis and Dissertation Talk (FTDT) Chapter #31.

Diskusi ini membedah tesis Iva Hasanah (Founder dan direktur KPS2K; Founder Indonesia Feminis Academy and Humanitarian) dari program studi Jender dan Pembangunan, Universitas Hasanuddin yang berjudul Dinamika Kepemimpinan Perempuan Akar Rumput dan Perlawanan Stigmatisasi Gender (Studi Kasus Sekolah Perempuan Gresik Jawa Timur).

Diskusi ini dimoderatori oleh Valentina YD Utari dan dilakukan secara online melalui Zoom dan live streaming di YouTube. 

Berangkat dari Sebuah Keresahan

Iva merupakan aktivis perempuan yang sudah lebih dari dua puluh tahun membersamai komunitas perempuan, termasuk Sekolah Perempuan. 

Berangkat dari pengalaman yang telah dimilikinya serta keresahan yang ia rasakan selama bergabung di Sekolah Perempuan, Iva tertarik untuk meneliti dinamika kepemimpinan perempuan di akar rumput.

Penelitiannya memiliki kebaruan penelitian, bahwa kepemimpinan perempuan akar rumput berbeda dengan kepemimpinan perempuan struktural.

Jika selama ini penelitian tentang kepemimpinan perempuan lebih banyak berfokus pada jabatan struktural, kedudukan dan kebijakan, penelitian Iva ingin berfokus melihat dinamika perempuan, dalam hal ini mereka yang belum memiliki jabatan, berasal dari kelompok minoritas, kelompok rentan bahkan tertindas. 

Meski demikian, mereka mampu membangun aksi kolektif untuk membuat perubahan yang praksis dan strategis. Iva menyebutkan bahwa penelitiannya difokuskan pada tiga hal. 

Pertama, melihat dinamika kepemimpinan perempuan di akar rumput. Kedua, melihat bagaimana stigma yang dihadapi oleh perempuan-perempuan di akar rumput. 

Ketiga, melihat bagaimana perempuan-perempuan ini melakukan aksi kolektif untuk mendapatkan pengakuan dan melakukan perubahan dalam ruang lingkup yang lebih besar.

Iva menjadikan Sekolah Perempuan di Gresik sebagai objek penelitiannya. Gresik sendiri menjadi tempat penelitian yang menarik karena menjadi kota dengan perkembangan pembangunan yang cepat.

Namun, Gresik juga kuat dengan isu feminisasi kemiskinannya. Sekolah Perempuan di Gresik memiliki anggota yang berasal dari kelompok masyarakat kelas bawah, minoritas, miskin, difabel, dan kelompok rentan lainnya.

Anggotanya juga berasal dari latar belakang agama yang beragam. Sebagian dari mereka merupakan anggota masyarakat yang sebelumnya belum banyak berpartisipasi di ruang-ruang publik karena berpendidikan rendah.

Iva menceritakan bahwa rekrutmen anggota Sekolah Perempuan dilakukan secara jemput bola dengan cara mendatangi kelompok masyarakat rentan dari akar rumput.

Menariknya, Iva tetap menggunakan frasa "perempuan miskin" untuk menggambarkan stigma yang dilabelkan pada perempuan-perempuan di Sekolah Perempuan untuk menunjukkan bagaimana perlawanan dan perubahan yang mereka lakukan.

Metodologi Penelitian

Iva melakukan penelitian berbasis studi kasus, dengan berfokus pada tiga Sekolah Perempuan di Gresik. Informan penelitian yang dipilihnya adalah leader dan anggota Sekolah Perempuan yang sudah bergabung selama kurang lebih sepuluh tahun.

Dengan menggunakan metodologi penelitian feminis, ia berusaha menempatkan diri sebagai peneliti yang mengedepankan objektivitas meskipun dia sendiri merupakan leader dari Sekolah Perempuan.

Ia menggunakan teori pemberdayaan dari Naila Kabeer untuk melihat bagaimana pola pikir yang berbasis gender dapat membuat seseorang menjadi percaya diri dan dapat membangun aksi kolektif untuk bisa mendorong perubahan yang transformatif bahkan menggeser norma yang sudah berlaku sebelumnya.

Di samping itu, Iva juga menggunakan teori pendidikan kritis dari Paulo Freire dan teori interseksionalitas dari Kimberle Crenshaw untuk melihat bagaimana proses terjadinya transformasi dan apa dampaknya bagi kehidupan perempuan.

Data dikumpulkan dari berbagai dokumen yang telah diliput oleh KPS2K, observasi secara langsung di beberapa pertemuan Sekolah Perempuan, wawancara dan FGD kepada anggota yang dilakukan secara partisipatif.

Untuk menjamin data tetap objektif, Iva akan menyerahkan kembali data yang sudah dituliskannya untuk dicek kembali oleh narasumber sebelum akhirnya ditulis dalam tesisnya.

Selain itu, untuk mendapatkan data yang mutakhir dan valid tentang dinamika sosial yang terjadi di masyarakat, Iva bergabung dengan ruang diskusi organik yang sudah terbentuk, seperti di kegiatan "rujakan" yang sering kali menjadi ruang para perempuan untuk berkeluh kesah.

Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan Akar Rumput

Proses pendidikan dan pemberdayaan di Sekolah Perempuan dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan. 

Berbagai pendekatan ini digunakan untuk menunjang berlangsungnya proses pendidikan kritis, manajemen organisasi serta praktik advokasi yang baik.

Sekolah Perempuan mendorong terciptanya ruang yang inklusif bagi kelompok rentan. 

Misalnya, dalam acara pertemuan dengan anggota Sekolah Perempuan, lokasi pertemuan dan tempat duduknya akan diatur agar semua anggota memiliki kesempatan untuk bersuara.

Lokasinya juga sering kali bukan bertempat di gedung-gedung ataupun ruangan yang terkesan formal sehingga para anggota merasa lebih nyaman dan percaya diri untuk berbicara.

Sedangkan, ketika menjalankan program advokasi, mereka menggunakan setting yang berbeda dari pelatihan. Advokasi biasanya akan diadakan di ruang yang lebih resmi seperti balai desa.

Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Pemilihan tempat advokasi yang dilakukan di ruang formal bertujuan agar para perempuan kembali memiliki kepercayaan diri, dan meyakinkan bahwa mereka sudah lebih memiliki kapasitas setelah bergabung ke Sekolah Perempuan.

Iva menceritakan jika sebelumnya para perempuan hanya memiliki pengalaman sebagai penerima bantuan dari pemerintah dan berperan sebagai masyarakat rentan kelas bawah.

Namun setelah mendapat pendidikan kritis di Sekolah Perempuan mereka dapat menyampaikan aspirasinya, dan menunjukkan power mereka untuk melakukan kerja kolektif.

Pendidikan kritis yang mereka dapatkan dapat digunakan untuk memahami budaya patriarki dan hubungannya dengan interseksionalitas mereka.

Stigma yang mereka dapatkan sebelumnya justru menjadi pengalaman berharga dan memperkuat power mereka untuk melaksanakan aksi kolektif sehingga ketika mereka kembali ke balai desa, eksistensi mereka diakui.

Proses Negosiasi

Iva menjelaskan bahwa para perempuan yang masih bertahan di Sekolah Perempuan tidak terlepas dari tantangan baik secara internal maupun eksternal. 

Tantangan internal misalnya, terkait perizinan dari keluarga. Ada kasus di mana ada anggota yang kurang mendapatkan perizinan dari keluarga.

Ketika kendala dan tantangan ini muncul para perempuan di  Sekolah Perempuan akan membantu mencari informasi tentang kendala yang dialami anggotanya dan membantu anggota untuk melakukan negosiasi dengan keluarga.

Masalah kepemimpinan perempuan terkadang juga dimulai dari diri sendiri (individu) dalam mengambil keputusan. 

Perasaan kurang percaya diri akibat tingkat pendidikan maupun posisi sosial di masyarakat seringkali membuat perempuan ragu untuk bersuara.

Namun, di Sekolah Perempuan terdapat pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan skill berbicara di ruang publik. 

Setelah para perempuan ini selesai dengan dirinya sendiri, mereka lebih mudah bertumbuh dan memiliki otoritas untuk melakukan kerja kolektif dan melakukan perubahan. 

Peran Sekolah Perempuan

Keberadaan Sekolah Perempuan, menurut Iva, telah berdampak secara signifikan bagi kehidupan kelompok perempuan rentan yang ada di Gresik.

Iva menceritakan bahwa ada kasus di mana ada seseorang yang beragama Hindu dan harus memakai jilbab karena takut jika ia tidak diterima, terutama oleh kelompok mayoritas.

Namun, setelah proses pendidikan, anggota Sekolah Perempuan juga semakin inklusif. Bahkan di acara hari besar keagamaan mereka justru saling datang berkunjung.

Salah satu informan dalam penelitian Iva juga menceritakan bahwa dirinya mengaku jika sebelum mengikuti Sekolah Perempuan, ketika ia melihat baju pemerintah desa yang berwarna coklat ia akan gemetaran.

Pada awalnya mereka sangat takut dan gugup ketika berbicara di ruang publik. Namun setelah mengikuti pelatihan di Sekolah Perempuan mereka jauh lebih percaya diri, bahkan sampai kekurangan waktu ketika ada kesempatan berbicara.

Sekolah Perempuan tidak hanya melakukan pemberdayaan dalam bentuk kemampuan teknis untuk meningkatkan kapasitas keterampilan melainkan juga melakukan pendidikan kritis dan adil gender. 

Pendidikan kritis berbasis gender inilah yang membuat pola pikir para anggota Sekolah Perempuan berkembang.

Adanya kelas "batik healing" misalnya menjadi ruang pendidikan yang digunakan untuk melepaskan emosi sekaligus berkarya. 

Ada juga sanggar tari yang berfungsi bagi anggota untuk mengenali otoritas tubuhnya sendiri. 

Hal ini dikarenakan beberapa di antara anggota Sekolah Perempuan adalah penyintas kekerasan.

Salah satu kepemimpinan perempuan yang dapat dilihat adalah dari bagaimana perempuan di Sekolah Perempuan menjalankan atau membuat program sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.

Mereka akan menghapus atau mengganti program jika sudah tidak relevan dan memberikan manfaat untuk para anggotanya.

Pola kepemimpinan perempuan yang dijalankan di Sekolah Perempuan adalah model kepemimpinan kolektif, bukan kepemimpinan struktural.

Para perempuan bersama-sama membangun aksi kolektif untuk melakukan perlawanan yang dilandasi semangat memperjuangkan hak kelompok rentan.

Model kepemimpinan kolektif ini nyatanya mampu menciptakan kekuatan dan keberanian yang besar. 

"Saya tidak sendiri tapi bersama yang lain" ungkapan itu menjadi sumber kekuatan bagi para perempuan di Sekolah Perempuan.

Seringkali pula keberhasilan yang dicapai tidak diyakini sebagai peran individual tetapi sebagai keberhasilan dari adanya kerja sama. 

Ketika keberhasilan datang, mereka seringkali mengatakan "bukan karena saya tapi karena teman saya".

Kerendahhatian dan kesadaran itulah yang menjadikan mereka mampu menghadapi tantangan-tantangan dalam upaya melawan stigmatisasi yang ada. 

Mereka yakin beban akan terasa lebih ringan karena mereka bersama. []

x

Posting Komentar untuk " Belajar dari Perempuan Akar Rumput: Kepemimpinan Kolektif Melawan Stigmatisasi"