![]() |
| Kepemimpinan Kolektif Melawan Stigmatisasi (Dok: Letss Talk) |
Belajar dari Perempuan Akar Rumput: Kepemimpinan Kolektif Melawan Stigmatisasi
Oleh:
Okta Nurul Hidayati
Sabtu,
27 Juni 2026 LETSS Talk (Let's Talk about SEX n SEXUALITIES) menyelenggarakan
Feminist Thesis and Dissertation Talk (FTDT) Chapter #31.
Diskusi
ini membedah tesis Iva Hasanah (Founder dan direktur KPS2K; Founder Indonesia
Feminis Academy and Humanitarian) dari program studi Jender dan Pembangunan,
Universitas Hasanuddin yang berjudul Dinamika
Kepemimpinan Perempuan Akar Rumput dan Perlawanan Stigmatisasi Gender (Studi
Kasus Sekolah Perempuan Gresik Jawa Timur).
Diskusi ini dimoderatori oleh Valentina YD Utari dan dilakukan
secara online melalui
Berangkat
dari S ebuah Keresahan
Iva
merupakan aktivis perempuan yang sudah lebih dari dua puluh tahun membersamai
komunitas perempuan, termasuk
Berangkat dari pengalaman yang telah dimilikinya serta
keresahan yang ia rasakan selama bergabung di Sekolah Perempuan, Iva tertarik
untuk meneliti dinamika kepemimpinan perempuan di akar rumput.
Penelitiannya memiliki kebaruan penelitian, bahwa kepemimpinan perempuan akar rumput berbeda dengan kepemimpinan perempuan struktural.
Jika
selama ini penelitian tentang kepemimpinan perempuan lebih banyak berfokus pada
jabatan struktural,
Meski demikian, mereka mampu membangun aksi kolektif untuk membuat perubahan yang praksis dan strategis. Iva menyebutkan bahwa penelitiannya difokuskan pada tiga hal.
Pertama, melihat dinamika kepemimpinan perempuan di akar rumput. Kedua, melihat bagaimana stigma yang dihadapi oleh perempuan-perempuan di akar rumput.
Ketiga, melihat bagaimana perempuan-perempuan ini melakukan aksi kolektif untuk mendapatkan pengakuan dan melakukan perubahan dalam ruang lingkup yang lebih besar.
Iva
menjadikan
Namun,
Gresik juga kuat dengan
Anggotanya
juga berasal dari latar belakang agama yang beragam. Sebagian dari mereka
merupakan anggota masyarakat yang sebelumnya
Iva
menceritakan bahwa
Menariknya
Metodologi Penelitian
Iva
melakukan penelitian berbasis studi kasus, dengan berfokus pada tiga Sekolah
Perempuan di Gresik. Informan penelitian yang dipilihnya adalah leader
dan anggota Sekolah Perempuan yang sudah bergabung selama kurang lebih sepuluh
tahun.
Dengan
menggunakan metodologi penelitian feminis, ia berusaha menempatkan diri sebagai
peneliti yang
Ia
menggunakan teori pemberdayaan dari Naila Kabeer untuk melihat bagaimana pola
pikir yang berbasis gender dapat membuat seseorang menjadi percaya diri dan
dapat membangun aksi kolektif untuk bisa mendorong perubahan yang
Di
samping itu, Iva juga menggunakan teori pendidikan kritis dari Paulo Freire dan
teori interseksionalitas dari Kimberle Crenshaw untuk melihat bagaimana proses
terjadinya transformasi dan apa dampaknya bagi kehidupan perempuan.
Data
dikumpulkan dari berbagai dokumen yang telah diliput oleh KPS2K, observasi
secara langsung di beberapa pertemuan Sekolah Perempuan, wawancara dan FGD
kepada anggota yang dilakukan secara partisipatif.
Untuk
menjamin data tetap objektif, Iva akan menyerahkan kembali data yang sudah
dituliskannya untuk dicek kembali oleh narasumber sebelum akhirnya ditulis
dalam tesisnya.
Selain
itu, untuk mendapatkan
Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan Akar Rumput
Proses pendidikan dan pemberdayaan di Sekolah Perempuan dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan.
Berbagai
pendekatan ini digunakan untuk menunjang berlangsungnya proses pendidikan
kritis, manajemen organisasi serta praktik
advokasi yang baik.
Sekolah Perempuan mendorong terciptanya ruang yang inklusif bagi kelompok rentan.
Misalnya, dalam acara pertemuan dengan anggota Sekolah
Perempuan, lokasi pertemuan dan tempat duduknya akan
diatur agar semua anggota memiliki kesempatan untuk bersuara.
Lokasinya juga sering kali bukan bertempat di gedung-gedung ataupun
ruangan yang terkesan formal sehingga para anggota merasa lebih nyaman dan
percaya diri untuk berbicara.
Sedangkan, ketika menjalankan program advokasi, mereka menggunakan
setting yang berbeda dari pelatihan. Advokasi
Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Pemilihan tempat advokasi
yang dilakukan di ruang formal bertujuan agar para perempuan kembali memiliki
kepercayaan diri, dan
Iva menceritakan jika sebelumnya para perempuan hanya memiliki
pengalaman sebagai penerima bantuan dari pemerintah dan berperan sebagai
masyarakat rentan kelas bawah.
Namun setelah mendapat pendidikan kritis di Sekolah Perempuan mereka dapat menyampaikan aspirasinya, dan menunjukkan
power mereka untuk melakukan kerja kolektif.
Pendidikan kritis yang mereka dapatkan dapat digunakan untuk
memahami budaya patriarki dan hubungannya dengan interseksionalitas mereka.
Stigma yang mereka dapatkan sebelumnya justru menjadi pengalaman
berharga dan memperkuat power mereka untuk melaksanakan aksi kolektif sehingga
ketika mereka kembali ke balai desa, eksistensi mereka diakui.
Proses Negosiasi
Iva menjelaskan bahwa para perempuan yang masih bertahan di Sekolah Perempuan tidak terlepas dari tantangan baik secara internal maupun eksternal.
Tantangan internal misalnya, terkait perizinan dari keluarga. Ada
kasus di mana ada anggota yang kurang mendapatkan perizinan dari
Ketika kendala dan tantangan ini muncul para perempuan di Sekolah
Perempuan akan membantu mencari informasi tentang
kendala yang dialami anggotanya dan membantu anggota untuk melakukan negosiasi
dengan keluarga.
Perasaan kurang percaya diri akibat tingkat
pendidikan maupun posisi sosial di masyarak
Namun, di Sekolah Perempuan terdapat pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan skill berbicara di ruang publik.
Setelah para perempuan ini
selesai dengan dirinya sendiri, mereka lebih mudah bertumbuh dan memiliki otoritas untuk melakukan kerja kolektif dan melakukan perubahan.
Peran Sekolah Perempuan
Keberadaan
Sekolah Perempuan, menurut Iva, telah berdampak secara signifikan bagi
kehidupan kelompok perempuan rentan yang ada di Gresik.
Iva
menceritakan bahwa ada kasus di mana ada seseorang yang beragama Hindu dan
harus memakai jilbab karena takut jika ia tidak diterima, terutama oleh
kelompok mayoritas.
Namun,
setelah proses pendidikan, anggota Sekolah Perempuan juga semakin inklusif.
Bahkan di acara hari besar keagamaan mereka justru saling datang berkunjung.
Salah
satu informan dalam penelitian Iva juga menceritakan bahwa dirinya mengaku jika
sebelum mengikuti Sekolah Perempuan, ketika ia melihat baju pemerintah desa
yang berwarna coklat ia akan gemetaran.
Pada
awalnya mereka sangat takut dan gugup ketika berbicara di ruang publik. Namun
setelah mengikuti pelatihan di Sekolah Perempuan mereka jauh lebih percaya
diri, bahkan sampai kekurangan waktu ketika ada kesempatan berbicara.
Sekolah
Perempuan tidak hanya melakukan pemberdayaan dalam
bentuk
Pendidikan kritis
berbasis gender inilah yang membuat pola pikir para anggota Sekolah
Perempuan berkembang.
Adanya kelas "batik healing" misalnya menjadi ruang pendidikan yang digunakan untuk melepaskan emosi sekaligus berkarya.
Ada juga sanggar tari yang berfungsi bagi anggota untuk mengenali otoritas tubuhnya sendiri.
Hal ini dikarenakan beberapa di antara anggota Sekolah Perempuan adalah penyintas kekerasan.
Salah satu kepemimpinan perempuan yang dapat dilihat adalah dari
Mereka akan menghapus atau mengganti program jika sudah tidak
relevan dan memberikan manfaat untuk para anggotanya.
Pola
kepemimpinan perempuan yang dijalankan di Sekolah Perempuan adalah model
kepemimpinan kolektif, bukan kepemimpinan struktural.
Para
perempuan bersama-sama membangun aksi kolektif untuk melakukan perlawanan yang
dilandasi semangat memperjuangkan hak kelompok rentan.
Model kepemimpinan kolektif ini nyatanya mampu menciptakan kekuatan dan keberanian yang besar.
"Saya tidak sendiri tapi bersama yang lain" ungkapan itu
menjadi sumber kekuatan bagi para perempuan di Sekolah Perempuan.
Seringkali
pula keberhasilan yang dicapai tidak diyakini sebagai peran individual tetapi
sebagai keberhasilan dari adanya
Ketika keberhasilan datang, mereka seringkali mengatakan "bukan
karena saya tapi karena teman saya".
Kerendahhatian dan kesadaran itulah yang menjadikan mereka mampu menghadapi tantangan-tantangan dalam upaya melawan stigmatisasi yang ada.
Mereka yakin
beban akan terasa lebih ringan karena mereka bersama. []
x
.jpeg)
Posting Komentar untuk " Belajar dari Perempuan Akar Rumput: Kepemimpinan Kolektif Melawan Stigmatisasi"
Mohon tidak menyisipkan tautan apapun ke dalam komentar karena dianggap spam. Terima kasih, ditunggu kembali kunjungannya :)