Budaya Victim Blaming, Penghalang Korban Mencari Jalan Keadilan

Budaya Victim Blaming, Penghalang Korban Mencari Jalan Keadilan
Victim Blaming, Penghalang Korban Mencari Jalan Keadilan

Budaya Victim Blaming, Penghalang Korban Mencari Jalan Keadilan

Oleh: Rezha Rizqy Novitasary

Dulu, di lingkungan saya, ada suatu kasus yang kelak di kemudian hari saya sebut kekerasan seksual. Kasus ini menyeret sepasang laki-laki dan perempuan muda. Mereka berpacaran.

Video asusila antara perempuan tersebut dengan laki-laki lain yang direkam oleh pacarnya tersebar. Sontak hal ini membuat geger masyarakat sekitar. 

Seperti yang kita tahu, jika ada kekerasan seksual yang terjadi, masyarakat awam selalu melimpahkan kesalahan kepada perempuan. 

Demikian juga dengan kasus tersebut, orang-orang menganggap kesalahan utama ada pada si perempuan karena dianggap mau melakukan perbuatan asusila tersebut. 

Tidak menolak berarti bersedia. Tidak melaporkan kepada pihak berwajib, berarti ia mau atau rela melakukannya, dan menyukainya. 

Karena tidak memutuskan pacarnya, dia dianggap yang sebenarnya gatal.  Pandangan orang awam semacam itu terlanjur mengakar kuat. 

Dari anggapan tersebut akhirnya sanksi sosial dijatuhkan oleh masyarakat sekitar. Keduanya harus keluar dari desa dan tak lagi boleh menampakkan dirinya lagi. 

Padahal, bila ditelisik lebih dalam, video asusila yang beredar hanyalah puncak gunung es dari rangkaian penderitaan yang dialami korban perempuan. 

Awal kasus ini menurut saya umum terjadi. Seorang perempuan yang pintar, cantik, dan pendiam berpacaran dengan laki-laki yang cenderung bandel dan keras kepala. 

Pacarnya memintanya mengirimkan foto tanpa busana sebagai dasar pembuktian cinta. Begitu ia mendapatkan foto-foto pribadi korban, ia menggunakannya sebagai senjata untuk memaksanya berhubungan seksual.

Setelah berhubungan seksual dengan korban, ia terus mengancam korban dan memanipulasinya bahwa ia tak lagi perawan. 

Ia gunakan hal tersebut untuk memaksa korban berhubungan dengan laki-laki lain. Ia janjikan sejumlah uang untuk dinikmati berdua. 

Ia juga merekam aksi tersebut. Dan akhirnya, salah satu rekaman video asusila tersebar di kalangan masyarakat. 

Sampai di sini tentu kita paham, bahwa sebenarnya perempuan tersebut adalah korban tindakan pemerkosaan yang sengaja dilakukan oleh pacarnya.

Beban Berlapis yang Dialami Korban

Pemaksaan hubungan seksual dengan ancaman, termasuk memaksa melakukan hubungan seksual dengan orang lain, bahkan setelahnya merekam dan menyebarkan rekaman perbuatan seksual itu, tanpa persetujuan korban adalah lapis demi lapis penderitaan yang dialami korban. 

Seharusnya, korbanlah yang dibela. Martabatnya harus dipulihkan. Karena sejatinya, bukan kehormatan korban yang hilang, tapi pelakulah yang kehilangan kehormatannya. 

Dari kasus tersebut perbuatan pihak lelaki yang sebenarnya layak menyeretnya ke dalam sel tahanan. Sayangnya, sanksi sosial yang umum, dari masyarakat justru meletakkan korban dan pelaku, seolah dalam posisi yang sejajar. 

Budaya victim blaming berperan besar dalam memberi pandangan masyarakat terhadap kasus ini. 

Victim blaming bisa diartikan kecenderungan menyalahkan korban atas kekerasan atau kejahatan yang dialaminya, serta mengalihkan tanggung jawab dari pelaku kepada korban. Biasanya hal ini terjadi pada kasus kekerasan seksual. 

Korban dianggap salah karena memakai pakaian terbuka, berada di tempat umum, keluar malam, atau memakai riasan tertentu.

Padahal kekerasan seksual bisa terjadi di dalam rumah sendiri dengan pelaku adalah orang terdekat korban sendiri seperti ayah, paman, saudara kandung. Sesungguhnya tidak ada yang pantas disalahkan dalam kasus kekerasan seksual, selain pelaku. 

Dalam kasus tersebarnya rekaman asusila di atas, korbanlah yang dianggap salah karena masih mau berpacaran dengan pelaku. 

Korban juga dianggap salah karena tak mau menolak perintah pacarnya untuk berhubungan seksual dengan laki-laki lain. 

Padahal, bisa saja dalam situasi tersebut korban berada dalam ancaman kekerasan lain apabila menginginkan berpisah. Namun, ancaman penyebaran foto pribadi menghalangi niatnya.

Victim Blaming Merugikan Korban

Budaya victim blaming tentu amat merugikan korban dan penyintas kekerasan seksual. Padahal korban dan penyintas membutuhkan ruang aman untuk menceritakan kesakitan yang ia alami. Mereka butuh dukungan dari orang yang bisa dipercaya untuk kembali pulih. 

Menyalahkan korban atas peristiwa yang terjadi tentu membuatnya semakin tersudut, kesepian, marah, hilang arah, bahkan hingga depresi. 

Sementara pelaku yang jelas-jelas bersalah justru berkeliaran bebas dan hidup dengan baik di luar sana. 

Nilai dirinya tidak berkurang meski ia pelaku, hanya karena ia laki-laki. Bahkan tidak menutup kemungkinan ia kembali mencari korban di luar sana.

Victim blaming lahir dari salah satu hipotesis yang keliru. Orang baik hanya akan menerima hal-hal yang baik, sementara orang yang buruk akan menerima hal-hal yang juga buruk.  

Sehingga orang beranggapan jika ada orang yang tertimpa keburukan, pasti ada yang salah dengan dirinya. 

Hipotesis ini tentu saja keliru, karena tidak menutup kemungkinan orang yang baik juga tertimpa kesialan yang tidak mereka inginkan.

Sulitnya Mencari Keadilan bagi Korban

Victim blaming banyak membuat korban kesulitan mendapatkan keadilan. Bagaimana mungkin ia mendapatkan keadilan jika menyuarakan apa yang ia alami saja sudah disalahkan? 

Pada kasus pencurian, barang korban yang hilang dan ada di tangan pelaku adalah bukti atas perampasan barang yang ia miliki. 

Tapi pada kasus pemerkosaan, satu-satunya bukti atas perampasan otoritas tubuhnya adalah ceritanya sendiri. 

Ester Lianawati dalam buku Dari Rahim ini Aku Bicara mengungkapkan, “Perempuan terhormat ataupun tidak terhormat di mata Masyarakat, dari zaman kuno hingga hari ini akan mengalami rasa malu yang besar sekaligus rasa bersalah ketika menjadi korban pemerkosaan.” 

Demikianlah memang yang dirasakan oleh para korban. Ia merasa malu sebab telah kehilangan kehormatannya. 

Untuk mau berbicara dan mengungkapkan kekerasan yang ia alami saja sudah sangat berat baginya. Ia harus mengulang-ulang cerita menyakitkan saat dirampas otoritas tubuhnya. 

Sungguh memilukan jika setelah itu ia masih ditanya, ‘Kenapa kamu tidak melawan?’, ‘Kamu berpakaian seperti apa?’ ‘Kenapa kamu pulang malam?’, dan sederet pertanyaan lain yang justru menghakimi korban. 

Menjadi korban kekerasan seksual sudah amat berat. Hanya karena kita tak mengalami penderitaan yang menimpa mereka, bukan berarti hal itu tidak nyata. 

Jika sistem seperti ini dibiarkan, ketidakadilan yang menimpa orang lain bisa saja menimpa orang terdekat dan diri kita sendiri. 

Tugas kita sederhana, berdiri di samping korban, mendukung korban menyuarakan kekerasan yang ia alami hingga ia memperoleh keadilan yang pantas ia dapatkan.[]

Posting Komentar untuk "Budaya Victim Blaming, Penghalang Korban Mencari Jalan Keadilan"