.png)
Ditelan Sandekala,
Dirajam Prasangka
.png)
Ditelan Sandekala,
Dirajam Prasangka
Ditelan Sandekala, Dirajam Prasangka
Oleh: Siti Ummul KhoirSaifullah
Sartini mulai gelisah
sesaat setelah menutup satu per satu jendela rumah. Langgar-langgar sudah
menyetel syiiran Gus Dur, pertanda sebentar lagi sandekolo.
Konon, sandekolo adalah waktu ketika setan keluar berkeliaran. Mereka
mencium bau anak-anak yang masih bermain di luar rumah, lalu membawanya pergi
tanpa suara.
Namun, Azis, anaknya,
tak kunjung pulang. Tak biasanya anak itu telat. Ia pun bergegas, langkahnya
terburu-buru menuju lapangan. Di lapangan, Sartini berdiri terpaku sejenak.
Pandangannya mencari-cari wajah Azis. Sesekali ia juga memanggil nama anaknya.
Namun, ia tidak
menemukan anaknya di lapangan. Kepada beberapa teman Azis, Sartini bertanya.
Mereka menggeleng, tidak melihat Azis di lapangan.
Tanpa berpikir
panjang, Sartini berjalan cepat menuju langgar. Setiap magrib Azis memang biasa
salat berjamaah lalu mengaji di sana, layaknya anak-anak desa lainnya. Mungkin
ia langsung ke langgar tanpa singgah ke rumah, pikir Sartini.
Namun, harapan itu
pupus. Azis tidak ada juga di langgar. Kepada beberapa teman anaknya, Sartini
kembali bertanya. Jawaban yang ia terima tetap sama, tak seorang pun melihat
Azis.
Sartini mulai
dicengkram kepanikan. Ia berlari menuju rumahnya yang berdiri tak jauh dari
lapangan desa. Dalam langkah-langkah tergesa itu, ia menyapa setiap tetangga
yang dilewatinya, menanyakan Azis. Namun, jawabannya selalu sama, tidak ada
yang melihat.
Setibanya di rumah,
Sartini segera memberi tahu keluarganya bahwa Azis tidak ada di lapangan maupun
langgar. Kepanikan pun menjalar ke orang-orang yang berada di rumah. Mendengar
hal itu, Ngatemi, mertua Sartini yang sudah renta mendadak menegang. Urat-urat
di lehernya menonjol, napasnya tertahan.
Bibirnya komat-kamit
sambil mengunyah sirih, memperlihatkan gigi-giginya yang tetap rapi dan utuh.
Matanya seperti orang yang berpikir atau lebih tepatnya sedang menimbang
ingatan lama yang bangkit kembali.
Ngatemi kemudian
menyuruh orang-orang rumah untuk mencari Azis ke rumah-rumah saudara dan teman
Azis, sekolah, serta tempat-tempat yang biasa menjadi arena bermain anak seusia
Azis.
Bahkan, Ngatemi juga
menyuruh untuk mencari Azis ke pohon-pohon besar yang terkenal angker dan
setiap kebun pisang milik warga desa setempat.
Kecemasan Berulang
Kecemasan itu bukan
tanpa sebab. Beberapa tahun silam, anak seorang pedagang sate Madura pernah
hilang. Waktunya pun sama—sandekolo. Sejak sore hingga larut malam,
orang-orang menyisir desa tanpa hasil.
Baru menjelang azan
subuh, bocah itu ditemukan duduk di bawah pohon pisang di samping rumah mantri.
Wak Sholkan yang hendak salat subuh di langgar menemukannya tanpa sengaja
setelah mendengar tawa perempuan dari arah pohon pisang tersebut.
Ketika didekati,
tampak bocah itu meringkuk kaku, seperti dihantui ketakutan. Kulitnya pucat dan
dingin, bibirnya membiru, dan tak sepatah kata pun mampu keluar dari mulutnya.
Warga desa pun mengatakan bahwa bocah itu telah digondol wewe.
Ia pun segera
dimandikan dengan air peceren, air yang dipercaya dapat meluruhkan sisa-sisa
pengaruh wewe. Setelah itu, barulah bocah itu bisa berbicara lagi.
Beberapa jam setelah
pencarian dimulai, Sartini meminta Wak Ali mengumumkan kehilangan Azis di
langgar. Sejak pengumuman itu, sejumlah warga di RT setempat ikut turun tangan
mencari, meski tak sedikit pula yang hanya menebak-nebak dan
berspekulasi.
Malam kian larut.
Sartini berniat melaporkan kehilangan Azis ke polisi. Namun, Ngatemi segera
mencegahnya. Ia menyarankan agar Sartini terlebih dahulu menemui Wak Kardi,
dukun desa yang terkenal sakti.
Kesaktiannya itu juga
dipercaya telah berhasil memenangkan setiap calon kepala desa yang meminta
bantuannya saat Pilkades. Tak heran jika rumahnya banyak didatangi oleh warga
luar desa dan luar kota yang mendambakan pangkat dan kemakmuran.
Sartini pun menuruti
saran Ngatemi. Ia ke rumah Wak Kardi yang letaknya di samping kuburan ditemani
suaminya. Mereka kemudian pulang membawa petunjuk dari Wak Kardi.
Azis diduga diajak
oleh seseorang yang tinggal tidak jauh dari rumah mereka. Orang itu dikenal
dermawan. Beberapa hari sebelumnya bahkan sempat memberi Azis uang.
Beberapa hari yang
lalu, Ngatemi melihat Jumiati memberi uang Azis saat Azis bermain di tanah
lapang dekat rumah Jumiati.
“Sore itu Azis diberi
uang Jumiati, benar? Lalu, uang itu aku minta dari Azis dan membakarnya.
Kemudian, malamnya aku bermimpi ada seorang laki-laki berbadan besar hitam,
mata merah, marah-marah kepadaku karena aku telah membakar uang itu. Laki-laki
itu kemudian berjalan membungkuk ke arah rumah Jumiati.”
Mendengar itu, Sartini
langsung histeris. “Nauzubillah… mosok anakku ape digawe tumbal,
Mak?”
Tak berpikir panjang,
Ngatemi bersama beberapa anggota keluarga dan warga yang telah berkumpul di
rumahnya bergerak menuju rumah Jumiati. Salah satu orang di desa yang dianggap
memiliki pesugihan adalah Jumiati.
Ia memang sangat
dermawan: suka memberi para tetangga buah-buahan mahal, seperti anggur, pisang,
kelenkeng, apel, dan lain-lain. Akan tetapi, para tetangga tidak ada yang mau
memakannya karena takut dijadikan tumbal. Bahkan, anak-anak yang suka maling mangga
di pohon pun tidak berani maling mangga milik Jumiati.
Para tetangga meyakini
bahwa Jumiati memiliki pesugihan karena suka berjalan dengan tangan ke
belakang, seperti menggendong tuyul. Marni, tetangga samping rumahnya juga suka
melihat ada sosok laki-laki berbadan tinggi dan besar di belakang rumah Jumiati
yang dianggap sebagai kaki tangan Jumiati dalam mencari tumbal.
Kecurigaan tersebut
semakin menguat karena Jumiati berhasil membangun rumah yang besar meski hanya
bekerja sebagai pembuat genteng.
Bu RT yang menerima
laporan keributan berusaha mencegah Ngatemi dan menyarankan untuk berpikir
secara jernih. Meski sudah berusaha dicegah untuk melabrak rumah Jumiati karena
belum ada bukti yang kuat, Ngatemi dan beberapa warga tetap berjalan dengan penuh
amarah ke rumah Jumiati.
Sartini meneriaki
Jumiati untuk keluar rumah. Jumiati yang baru selesai salat isya pun kaget
dengan teriakan tersebut. Ia berusaha keluar rumah dengan tenang.
“Jangan jadikan cucuku
tumbal! kembalikan cucuku atau kami akan mengusirmu dari desa ini!” Teriak
Ngatemi dengan suara parau seorang nenek.
“Maksudmu opo,
Yu Ngatemi?”
“Azis hilang dan
petunjuk dari Wak Kardi mengarah kepadamu!” tambah Sartini.
Ngatemi tak memberi
ruang bagi kata-kata. Ia menerobos masuk ke rumah Jumiati. Jumiati panik,
berusaha menahannya dengan menggenggam tangan Ngatemi erat-erat.
Mereka saling tarik
hingga beberapa warga ikut memegangi tubuh Jumiati, membuka jalan bagi Ngatemi
dan Sartini masuk ke dalam rumah. Amarah memandu langkah mereka. Setiap
sudut rumah disisir. Namun, Azis tak ditemukan.
Jumiati Menangis
Jumiati hanya bisa
menangis terisak. Ia bukan hanya takut, melainkan juga menyadari bahwa apapun
yang ia katakan malam itu tak akan cukup kuat melawan cerita yang sudah
terlanjur hidup di kepala para tetangganya.
Tak menemukan Azis di
rumah utama. Ngatemi dengan tubuh rentanya berjalan ke arah samping rumah
Jumiati. Di sana, berdiri sebuah bangunan kayu tua yang dibiarkan lapuk,
kontras dengan rumah besar yang telah direnovasi.
Warga selama ini
meyakini bangunan itu sebagai sarang pesugihan, tempat sumur tua yang konon
menjadi rumah untuk setan yang menjadi kaki tangan Jumiati dalam mencari
tumbal. Itulah sebabnya bangunan itu tak pernah disentuh, tak dibongkar, dan
tak diperbaiki.
Dengan dada berdebar,
Ngatemi melangkah masuk. Ngatemi mencari keberadaan sumur tua. Barangkali Azis
disembunyikan di dekat sana. Setelah menyisir ruangan yang gelap sekaligus
engap, Ngatemi dikagetkan oleh sebuah fakta: tidak ada sumur tua di dalam bangunan
ini.
Hanya ada tumpukan
cetakan genteng yang retak, gundukan tanah liat, alat-alat kerja usang, dan
ribuan tumpukan genteng matang yang siap dijual. Ngatemi terpaku. Tak ada
pesugihan di sana. Hanya kerja keras yang disalahpahami.
Beberapa orang
menunggu penuh debar di luar rumah. Takut apabila setan penghuni sumur tua
mengamuk.
Di tengah-tengah
ketegangan itu, terdengar suara kecil memecah sunyi.
“Mak…”
Semua kepala menoleh.
Azis berdiri di tepi
jalan, menggenggam tangan pamannya, Yatno. Ngatemi buru-buru keluar bangunan
tua itu saat mendengar seruan warga yang mengatakan Azis telah ditemukan.
Sartini langsung berlari dan memeluk Azis.
“Kamu temukan dimana
anakku, Yat?”
“Loh, tadi aku sudah pamit ke Mak Ngatemi kalau mau ngajak Azis ke alun-alun kota. Tadi Mbak Sartini katanya lagi landang, makanya aku nitip pesan aja ke Mak Ngatemi.”
“Emakmu sudah tua, sudah pikun.” Ucap Bu RT yang sedari tadi berusaha mendamaikan suasana tapi dikalahkan oleh kekuatan prasangka dan amarah Ngatemi. []
x
Posting Komentar untuk "Ditelan Sandekala, Dirajam Prasangka"
Mohon tidak menyisipkan tautan apapun ke dalam komentar karena dianggap spam. Terima kasih, ditunggu kembali kunjungannya :)