Tiket Sekali Jalan Rosita

 

Tiket Sekali Jalan Rosita

Tiket Sekali Jalan Rosita

Oleh: R.A.Awani

Jarum mesin jahit itu menusuk-nusuk tumpukan kain perca, berderik seirama dengan detak jam dinding yang telah memenjarakan Rosita selama sepuluh tahun terakhir. 

Dinding abu-abu ruang tengah adalah saksi bisu; melihat bagaimana seorang reporter utama yang dulu suaranya diagungkan 500 ribu pasang mata, perlahan menyusut menjadi sekadar bayangan di balik daster katun yang mulai berserabut.

"Perempuan solehah itu tempatnya di rumah, Nduk. Bersyukur Bayu tak membiarkan kulitmu terbakar matahari demi mengejar berita."

Kalimat Ibu kembali mengalun di kepalanya, sebuah doktrin turun termurun yang dilontarkan atas nama kasih sayang, namun sukses memotong sayap Rosita hingga ke pangkal. 

Kini, keahlian tangannya yang dulu merangkai kata untuk headline berita, hanya digunakan untuk mendandani kucing-kucingnya. Sebuah pelarian ironis bagi perempuan yang kehabisan ruang gerak.

Sore itu, rutinitas Rosita terhenti oleh ketukan pintu.

Bukan kurir paket, apalagi penagih iuran warga. Sosok jangkung itu memblokir cahaya sore di ambang pintu. 

Rambut cepaknya tersisir rapi, membingkai sepasang mata cokelat pekat menatap Rosita terang-terangan—tatapan yang seolah mampu melucuti keputusasaan di balik senyum basa-basi sang nyonya rumah. 

"Cari siapa?" Kedua lengan Rosita bersilang di dada. Insting kewartawanannya yang tertidur pulas mendadak siaga.

"Apa benar ini kediaman Rosita?" Suara pria itu berat, bergema ganjil membelah udara senja yang lengang. 

Rosita mengangguk ragu. "Ada keperluan apa ya?"

Selembar Tiket

Sebagai jawaban, pria itu menyodorkan selembar tiket lawas bernuansa vintage. Tiket sekali jalan menuju sebuah pulau. Ajaibnya, aroma laut entah dari mana tiba-tiba merembes memenuhi ruang tamunya yang pengap. 

Tubuh Rosita seakan disihir; ia bisa merasakan butiran pasir putih menelusup di jemari kakinya, dan manisnya es krim yang meredakan terik di tenggorokan. 

Tapi ilusi kebebasan itu lekas ditarik paksa ke bumi saat pandangannya membentur kerak kotoran di piring wastafel, serta kemeja Bayu yang masih menumpuk lecek di keranjang setrika.

"Saya akan menjemput Anda besok. Jika bersedia, bersiaplah," ucap pria itu datar.

"Anda salah alamat. Saya tidak tertarik." Rosita mundur selangkah. "Lagi pula, Anda ini orang asing. Bagaimana Anda tahu nama dan alamat saya?"

Bibir pria itu melengkung, membentuk senyum satir. "Sebab nama Anda terukir paling atas dalam manifes Perempuan-Perempuan Tak Bahagia. Saya hanya menjalankan tugas."

Dada Rosita bergemuruh. Matanya menyapu jalanan kompleks sepi—tak ada seorang pun yang bisa dijadikan saksi atas percakapan absurd ini. 

Ingin rasanya ia mengiyakan, tapi dogma itu kembali mencekik lehernya. Siapa yang menyiapkan makan malam? 

Bukankah dosa besar membiarkan suami kelaparan? Perempuan adalah kayu bakar neraka jika tak patuh pada suaminya.

"Bagaimana, Rosita?"

"Saya... rasa tidak." Rosita menjawab parau, menunduk menatap ujung sepatu kulit pria itu.

"Mata Anda tidak sepakat dengan bibir Anda. Saya akan kembali esok hari. Mungkin esok, Anda sudah ingat cara menyelamatkan diri." 

Pria itu berbalik, punggungnya perlahan ditelan kabut senja, meninggalkan Rosita yang membeku seperti patung Yunani Kuno.

Pukul dua pagi. Kamar itu dingin, sedingin tembok es yang membentang di antara Rosita dan punggung Bayu. Kasur berukuran king size ini terasa terlalu luas untuk dua manusia yang tak lagi saling mengenali.

Rahim yang Tak Akan Bisa Menyemai Kehidupan

Sejak dokter kandungan menjatuhkan vonis bahwa rahim Rosita tak akan pernah bisa menyemai kehidupan, Bayu berhenti melihatnya sebagai seorang istri. 

Rosita telah direduksi: dari seorang pasangan menjadi sekadar perabot bernapas yang bertugas memastikan kopi tersaji hangat dan rumah selalu rapi.

Rosita membalikkan tubuh. Resah. Kasur berderit pelan.

"Bisa diam tidak?" Suara serak Bayu menyeruak dari balik selimut. "Kasur ini bergoyang terus. Aku capek."

Tidak ada sentuhan. Tidak ada pertanyaan 'kamu kenapa tidak bisa tidur?'. Hanya teguran ketus seorang majikan yang terganggu istirahatnya.

Rosita bangkit tanpa suara. Ia berjalan keluar kamar, membiarkan kakinya menjejak ubin dingin menuju ruang makan. Diteguknya air es lamat-lamat. 

Di tengah sunyinya malam, ia merenungi nasibnya yang dirayakan sebagai 'keberuntungan' oleh sang Ibu. "Nggak apa-apa mandul, Nduk. Toh selama dapur mengepul, kamu aman bersama Bayu." Aman. Sebuah kata eufemisme untuk 'terpenjara'. 

Di bawah cahaya lampu temaram, cincin emas di jari manisnya tak lagi terlihat seperti perhiasan, melainkan borgol yang mengikatnya pada kejatuhan.

Sayup-sayup adzan subuh memaksa Rosita mengangkat kepalanya yang kebas dari meja makan. Roda nasibnya kembali berputar. 

Ia mengekor di belakang Bayu mengambil wudu; membentangkan sajadah berdampingan, namun berdoa dalam sunyi yang saling menikam. 

Begitu matahari merangkak naik, tugasnya dipusar pada satu titik; berdiri di teras. "Aku pulang telat." Hanya itu yang diucapkan Bayu sebelum mesin mobilnya menderu membelah pagi, tanpa menoleh, apalagi sekadar mengecup kening.

Jam delapan. Rosita mencuci baju. Jam sepuluh. Rosita ke pasar.

Namun kali ini, langkahnya tak menjejak bumi. Ia memotong antrean di tukang sayur, menulikan telinga dari gosip ibu-ibu kompleks. Tangannya gemetar menggenggam kantong kresek. 

Pukul setengah tiga sore, semua rutinitas itu ia hentikan paksa. Sayur bayam yang belum dipotong ia biarkan teronggok di wastafel. Sapu ia geletakkan di tengah ruang keluarga.

Gaun Terakhir

Rosita berdiri di teras depan. Ia mengenakan gaun kuning terbaiknya—gaun yang terakhir kali ia pakai saat membacakan berita kemenangan di layar kaca sepuluh tahun silam. Hatinya berdebar gila.

Tepat pukul tiga sore, siluet pria itu membelah terik matahari. Ia kembali berdiri tegak di balik pagar, menatap Rosita dengan sepasang mata tajamnya, lalu mengulurkan satu tangan.

"Saya ikut," ucap Rosita mantap.

Tidak ada lagi sisa getar di suaranya. Sepasang matanya menyala terang, memantulkan kepingan harga diri yang akhirnya utuh kembali.

"Anda sungguh yakin? Ini tiket sekali jalan. Nama Anda akan terhapus dari eksistensi. Tidak akan ada lagi jalan pulang untuk memastikan wajan-wajan itu mengkilap," goda pria itu dengan nada menantang.

Rosita menoleh ke dalam rumah untuk terakhir kalinya. Matanya merekam daster pudar yang menggantung pasrah di balik pintu, lalu beralih pada cincin emas yang melingkar di jari manisnya. Dengan gerakan pelan namun pasti, ia menarik paksa perhiasan itu. 

Logam dingin tersebut ia geletakkan begitu saja di atas pilar pagar batu—mengembalikannya pada ia yang merasa memiliki, memutus rantai kepatuhan yang selama ini mencekiknya.

"Saya yakin. Bawa saya sekarang."

Rosita membalikkan badan dan melangkah pergi. Dibiarkannya pintu rumah itu terbuka lebar-lebar. Mengundang angin sore merangsek masuk, menyapu bersih debu-debu kepalsuan dan mengobrak-abrik segala keteraturan, hancur berantakan menanti tuannya pulang.[]

 

Posting Komentar untuk "Tiket Sekali Jalan Rosita"