Perempuan Kepala Keluarga, Perempuan Multiperan

 

Perempuan Kepala Keluarga

Perempuan Kepala Keluarga, Perempuan Multiperan

Oleh: Arinal Muna

Konon, perempuan harus berdaya. Saya sendiri tidak bisa tidak setuju dengan pernyataan itu. Tapi, kebanyakan perempuan yang saya temui, mereka bukan hanya berdaya tetapi juga diberdayakan.

Keadaan sosial membuat perempuan memiliki multiperan. Ia bertanggungjawab atas dirinya, anak-anaknya, suaminya, pekerjaan domestik dan pekerjaan produktif. Beban ganda sangat melekat terhadap mereka.

Perempuan yang multiperan ini tidak berbeda dengan kebanyakan perempuan yang ada di suatu desa di Jawa Tengah. 

Desa tersebut terkenal akan usaha konveksi sejak lama. Baik konveksi skala rumah tangga, maupun skala yang lebih besar. 

Kehadiran konveksi ini memberi peluang pekerjaan kepada para tetangga sekitar industri khususnya perempuan di sana. 

Dalam proses pembuatan pakaian, bukan hanya penjahit yang berperan penting. Beberapa proses seperti pemotongan kain mengikuti pola, pemasangan kancing, pemasangan ban pinggang celana, dan bahkan melipat pakaian adalah tahapan terpisah dari proses menjahit.

Kebanyakan penjahit hanya menjahit pola pakaian yang ada. Pekerjaan-pekerjaan tadi dikerjakan oleh orang yang berbeda.

Walaupun tidak memiliki kemampuan menjahit, pekerjaan tadi adalah bagian dari proses memproduksi pakaian.

Peran Perempuan dalam Usaha Konveksi

Adanya usaha konveksi skala kecil maupun besar juga membantu perekonomian warga setempat.

Pekerjanya bukan hanya laki-laki, akan tetapi pekerja perempuan juga memiliki peran yang besar dalam industri konveksi di desa ini.

Banyak perempuan yang merupakan pemilik dari konveksi ini, sehingga banyak mempengaruhi industri konvensi di desa.

Menariknya, konveksi ini juga dijalankan oleh para suami bersama istrinya, sehingga mereka bekerja bersama-sama, dengan perempuan sebagai pelaku primer sebagai pemilik konvensi. 

Sebagian besar perempuan menggantungkan seluruh kehidupan ekonomi pada pada industri konvensi ini sebagai sumber penghasilan utama keluarga melalui sang istri.

Karena pekerjaan suami serabutan atau bahkan tidak bekerja sama sekali. Sebagian lainnya mengandalkan industri ini sebagai pendapatan tambahan. 

Para perempuan di desa tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak hanya memiliki peran yang pokok dalam keluarga, mereka juga memiliki memiliki peran yang sentral dalam eksistensi usaha konveksi di sana.

Pada praktiknya, mereka ada perempuan pencari nafkah utama dalam keluarga dan merupakan perempuan kepala keluarga. 

Sayangnya, kapasitas bekerja dan kemandirian finansial perempuan ini tidak lepas dari beban ganda dalam menjalani keseharian.

Perempuan Mengalami Beban Ganda

Selain harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga, ketika pulang ke rumah dan dalam masyarakat, mereka tetap dibebankan pekerjaan domestik rumah dan kerja perawatan dalam keluarga.   

Nyai Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm. menjelaskan bahwa perempuan memiliki pengalaman biologis dan juga pengalaman sosial sebagai perempuan, yang membuat kebutuhan perempuan berbeda dengan laki-laki.

Kebanyakan perempuan merasakan pengalaman sosial ini, yang meliputi stigmatisasi, marjinalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda.

Dalam masyarakat patriarki, pengalaman sosial yang merupakan bentuk ketidakadilan gender ini dianggap sebagai kodrat perempuan.

Masyarakat masih mempercayai dan menormalisasi bahwa ketidakadilan gender adalah suatu hal yang wajar dan normal terjadi bagi perempuan. 

Jelas bahwa memasak, mendidik anak, dan mengurus rumah bukan merupakan kodrat perempuan karena hal-hal ini bisa dipelajari dan dapat dipertukarkan.

Pekerjaan domestik dapat dilakukan dengan kesepakatan bersama antara laki-laki dan perempuan.

Konstruksi sosial membuat pekerjaan domestik menjadi pekerjaan yang bergender, yaitu dibebankan kepada perempuan. Begitu juga mencari nafkah, yang dibebankan kepada laki-laki.

Kondisi ekonomi dan sosial membuat perempuan menjadi pekerja konveksi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, yang mengharuskan mereka untuk cepat dalam mengambil kesempatan-kesempatan yang ada.

Upah yang Tidak Layak

Sekalipun pekerjaan konveksi diupah tidak layak, mereka tetap melakukannya. Misalnya saja pekerjaan melipat rok rempel sekolahan, hingga mengemasnya ke dalam plastik untuk siap dijual, akan diupah Rp 400,00 per kodi atau 20 rok. 

Pekerjaan ini dianggap ringan dan mudah, namun harus dibutuhkan ketelatenan dan kecepatan guna menghasilkan lipatan yang diinginkan. 

Upah Rp 400,00 per kodi adalah pengupahan terstandar di desa, untuk pekerjaan melipat rok di sana.

Mereka butuh melakukannya dengan jumlah banyak agar menghasilkan akumulasi yang cukup untuk kebutuhan keluarga. 

Sehingga tak jarang pekerja perempuan ini melakukan pekerjaan lain atau tidak menjadikan pekerjaan ini sebagai pekerjaan utama. 

Perempuan yang ada di desa ini adalah gambaran perempuan mandiri dan pekerja keras, dengan bekerja keras sesuai kemampuan dan kapasitas mereka, dan tidak mengandalkan pada suami atau laki-laki untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketika pemilik konvensi adalah perempuan, mereka juga memberdayakan pekerja perempuan yang lainnya dengan mempekerjakan lebih banyak perempuan.[]

 

Referensi:

1. Ngaji online KGI (Kajian Gender Islam) Bu Nur Rofiah.

2. 2. Wawancara santai degan salah satu perempuan di suatu desa di Jawa Tengah yang bekerja di sektor industri konveksi.

 

 

 

Posting Komentar untuk "Perempuan Kepala Keluarga, Perempuan Multiperan"