Saring Sebelum Sharing: Saatnya Perempuan Menguasai Literasi Kritis Digital

 

Saatnya Perempuan Menguasai Literasi Kritis Digital

Saring Sebelum Sharing: Saatnya Perempuan Menguasai Literasi Kritis Digital

Oleh:Yuyun Nailufar

Beberapa waktu lalu, seorang teman mendapati sebuah pesan berantai masuk ke grup WhatsApp isinya: peringatan keras bagi para ibu agar tidak memberikan obat tertentu saat anak demam, disertai rekomendasi “alami” dari bahan dapur yang diklaim lebih aman.

Tak lama dari itu, seorang ibu di dalam grup tersebut langsung membalas dengan nada panik, "Aduh, untung dibagikan! Tolong di-forward ke grup lainnya ya, kasihan ibu-ibu yang belum tahu."

Saat mendapati cerita itu, saya makin paham betapa dekatnya hal-hal seperti ini dengan keseharian kita. Saya percaya, mereka memiliki niat murni peduli dan ingin menjaga sesama ibu.

Tapi kalimat "saring sebelum sharing" yang sering kita dengar, jadi terasa mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan ketika empati mungkin beralih rupa menjadi alat penyebaran hoaks.

Perempuan Sebagai Sasaran Empuk Berita Hoaks

Bagi banyak perempuan, terutama ibu, naluri melindungi anak dan keluarga adalah yang utama. Sayangnya, naluri ini justru sering menjadi sasaran utama para pembuat disinformasi.

Mereka tahu persis cara membuat narasi yang melekat. Topiknya selalu dekat dengan keselamatan anak, resep kesehatan, bantuan finansial, atau imbauan moral.

Sebab, ketika rasa cemas atau panik muncul, refleks pertama seseorang adalah segera membagikan informasi itu. Di benak ibu-ibu, menunggu terasa seperti membiarkan orang lain dalam bahaya.

Dilansir dari Kompas.com ada berita seorang ibu tunggal. Dia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anak balitanya. 

Di tengah tekanan ekonomi, dia menerima pesan soal lowongan kerja paruh waktu: cukup like dan subscribe video, akan mendapat puluhan ribu rupiah.

Karena dikirim oleh teman dekat, dia percaya. Namun, kepercayaan itu  berujung tabungan kecilnya terkuras.

Kasus kejahatan siber ini lalu banyak dikenal sebagai Penipuan Lowongan Kerja Paruh Waktu (Part-Time Job Scam) atau modus "Like & Subscribe"

Dalam hal ini, bukan masalah si ibu kurang cerdas ataupun kurang kritis. Ini berkaitan dengan emosi yang terluka, kebutuhan yang mendesak, dan rasa aman yang terganggu.

Masalahnya, informasi palsu kerap memanfaatkan kerentanan hidup seseorang. Dan terkadang, informasi itu datang dari orang yang dianggap aman, seperti teman, saudara, atau komunitas kecil yang dipercaya.

Mengembangkan Pemikiran Kritis Tanpa Kehilangan Empati

Dilansir dari CNBC Indonesia, Data dari Ekonom Senior INDEF, Aviliani, menunjukkan tingkat literasi digital di Indonesia tahun 2023 baru 62%—di bawah rata-rata ASEAN yang 70%.

Angka ini bukan hanya sekadar statistik. Ini menunjukkan betapa rentannya ruang digital tempat kita berinteraksi sehari-hari.

Memiliki kemampuan Critical Thinking dalam literasi digital tidak selalu berarti menjadi kaku atau merasa paling tahu. Justru sikap ini harus kita terapkan untuk menjadi garda terdepan menangkal hoaks.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sudah memberikan panduan sederhana yang bisa kita terapkan:

1.Melihat sumbernya: Apakah berasal dari lembaga yang jelas dan bertanggung jawab, atau hanya teks terusan tanpa kejelasan asal?

2. Membaca emosi kontennya: Apakah kalimatnya provokatif, bombastis, atau sengaja memicu ketakutan?

3. Mengecek konteksnya: Apakah foto/video/berita itu benar-benar baru, atau fakta lama yang dipotong dan diberi narasi berbeda?

Berpartisipasi Aktif untuk Meluruskan Berita Hoaks Tanpa Menghakimi

Bagian tersulit dalam literasi digital bukanlah memeriksa fakta. Akan tetapi, ketika kita harus mengoreksi informasi yang keliru di grup keluarga atau komunitas.

Ada kekhawatiran dianggap tidak sopan atau bahkan dianggap sok tahu. Dalam hal ini alangkah baiknya kita meniru keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan kebaikan harus dengan adab dan kelembutan. 

Sebagaimana pesan Rasulullah ﷺ dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim: "Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari."

Selain itu, cara kita menyampaikan kebenaran sering kali menjadi lebih penting daripada kebenaran itu sendiri.

Jika ada teman atau kerabat yang membagikan hoaks, dan langsung membantah di grup umum hanya akan membuat mereka malu, alangkah baiknya menghubungi secara pribadi dan menggunakan nada yang santun:

"Aku lihat kamu tadi share ini, aku bantu untuk cek bareng ya, biar kita pastikan informasinya benar."

Menjadi Perempuan Cerdas Digital

Pada akhirnya, menjadi perempuan yang cerdas secara digital adalah tentang menjaga ruang aman bagi orang-orang di sekitar kita.

Sebelum meneruskan informasi atau menekan tombol “forward”, mari kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Apakah informasi ini benar-benar bermanfaat? Atau hanya menyebarkan kepanikan?”

Karena niat baik berbagi info tanpa disaring bisa saja justru membahayakan. Dan empati yang tidak dikontrol bisa menjadi alat penyebaran hoaks. 

Mari kita camkan bersama. Saring sebelum sharing bukan untuk menunda kebaikan, melainkan untuk memastikan niat baik atau malah kebaikan itu sendiri tersampaikan dengan benar.[]

Posting Komentar untuk "Saring Sebelum Sharing: Saatnya Perempuan Menguasai Literasi Kritis Digital"