Menjadi Perempuan Merdeka Setiap Hari

 


Menjadi Perempuan Merdeka

Menjadi Perempuan Merdeka Setiap Hari

Oleh: Aminatus Sakdiah

Menjadi seorang ibu dengan dua anak kecil, meninggalkan rumah selama beberapa jam tentu bukan pilihan yang mudah. Meskipun mereka aman dengan ayahnya sendiri, nyatanya rasa bersalah tetap menghantui.

Pengalaman inilah yang saya rasakan ketika memutuskan mengikuti kegiatan podcast dengan tema “Beyond Independence: Makna Kemerdekaan Seorang Muslimah” yang diadakan oleh komunitas MYC (Muslimah Youth Community).

Kegiatan ini merupakan forum diskusi tentang makna kemerdekaan bagi perempuan. Bertempat di salah satu rumah makan yang ada di kota Jombang, tepatnya di GDC Chicken. Lokasinya berada di tengah kota. Berjarak sekitar 7 km dari rumah, dan dapat ditempuh dalam waktu 20 menit menggunakan motor.

Karena saat itu sedang berlangsung kegiatan CFD (Car Free Day), saya harus mencari jalan pintas untuk sampai di sana. Alhasil, saya terpaksa berputar-putar terlebih dahulu mencari jalur alternafit yang aman. 

Selain ingin mempraktikkan prinsip lifelong learning (belajar sepanjang hayat), jauh dari lubuk hati yang terdalam, saya memang merasakan kepenatan dengan aktifitas rumah tangga dan membersamai anak-anak yang tidak bisa lepas dari saya.

 Namun siapa sangka justru saya merasakan pengalaman yang luar biasa. 

Belajar dari Pengalaman Perempuan (?)

Sumber: dokumentasi kegiatan dari panitia

Diskusi ini menghadirkan dua narasumber dengan pengalaman hidup yang berbeda. Kak Fahmiyah Tsaqofah Islamiy yaitu seorang guru muda serta aktivis dakwah muslimah, dan Ibu Dewi Athi’ul M. adalah ibu rumah tangga juga aktivis dakwah yang auranya sangat teduh. Acara tersebut dipandu oleh gen z yang ramah sekali, namanya Elzam. 

Peserta yang hadir juga sangat beragam, mulai dari anak sekolah, mahasiswa, perempuan pekerja dan ibu rumah tangga seperti saya. Selain itu, saya juga terkejut karena mengira kegiatan tersebut akan dihadiri oleh peserta wilayah Jombang dan sekitarnya saja.

Ternyata, ada juga muslimah dari kota lain yang bahkan sebelumnya juga mengikuti kegiatan MYC lain, seperti piknik dan lain-lain.

Jujur, saya jadi ingin ikut lagi ketika MYC kembali mengadakan pertemuan baik outdoor maupun indoor.

Kisah Kak Fahmiyah dan Ibu Dewi membuka mata saya bahwa kemerdekaan sejati tidak terikat oleh peran atau standar kesuksesan orang lain.

Keduanya menunjukkan bahwa baik di ruang kelas maupun di dalam rumah, seorang perempuan bisa merasa merdeka ketika ia menjalani perannya dengan kesadaran penuh, keikhlasan dan orientasi yang jelas.

Saya mendefinisikan ulang bahwa kebahagiaan dan kemerdekaan batin tidak dicari di luar publik, melainkan diciptakan dari bagaimana kita memaknai dan mencintai peran yang sedang diamanahkan kepada kita.

Menemukan Makna Kemerdekaan Seorang Muslimah

Sumber: dokumentasi pribadi

Ibu Dewi dalam pemaparannya menyatakan bahwa “muslimah yang sudah menikah dikatakan merdeka apabila bisa bersinergi dengan pasangannya.” Artinya perempuan yang dimaksud merdeka adalah mereka yang bisa menyelesaikan tugasnya karena berhasil bersinergi dengan suami.

Tugas di rumah rampung, di luar baik bekerja atau berdakwah tuntas, beribadah kepada Tuhannya juga teratur. Pernyataan tersebut membuat saya menyadari bahwa sinergi antar pasangan tidak cukup dimaknai sebagai dukungan saja.

Namun harus diwujudkan dalam pembagian pekerjaan rumah dan pengasuhan yang setara. Jika perempuan tetap dituntut menyelesaikan utusan domestik sebelum menjalani kewajiban di ruang publik, artinya kemerdekaannya masih dibatasi oleh beban yang tidak proporsional.  

Sedangkan menurut Kak Fahmiyah perempuan (muslimah) yang merdeka adalah mereka yang bebas menentukan pilihannya dan tidak bergantung pada validasi orang lain, yang tentunya pilihannya masih sesuai dengan syariat.

Beliau juga mengatakan tantangan hidup di dunia nyata saat ini banyak pengaruh dari dunia maya. 

Validasi orang lain menjadi standar kebahagiaan semu seseorang.  Sebagai ibu, saya merasa harus selalu berada di dekat anak agar dianggap ibu yang baik.

Penilaian itu membuat saya merasa bersalah ketika mengikuti kegiatan di luar rumah meskipun anak-anak diasuh oleh ayahnya sendiri.

Saya berefleksi bahwa bukan kegiatannya yang salah, namun ternyata saya masih hidup untuk mendapat validasi sebagai “ibu yang baik” sesuai standar yang dicipta di media sosial. 

Kegiatan Perempuan yang Bermanfaat

Sumber: dokumentasi dari panitia

Dengan biaya yang terjangkau, kegiatan ini memberikan pengetahuan sekaligus ruang perjumpaan untuk menjalin pertemuan usia dewasa. 

Kegiatan seperti ini sangat diperlukan oleh ibu muda seperti saya, untuk menambah pengalaman dengan kegiatan yang bermanfaat. Kegiatan yang bisa meng-update diri dengan ilmu, sehingga bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari. 

Menjadi Perempuan Merdeka Setiap Hari

Satu insight yang paling besar yang saya dapatkan setelah mengikuti kegiatan tersebut adalah saya ingin menjadi perempuan yang merdeka setiap hari. Hari itu, terbukti saya berhasil merdeka. Saya menyampaikan kepada suami bahwa saya ingin mengikuti kegiatan tersebut.

Karena hari itu ia libur bekerja, kami sepakat bahwa ia akan menjaga anak selama saya mengikuti acara. Suami menyepakati, beliau menjaga anak-anak dengan baik, dan saya bahagia sekali bisa belajar, bertemu teman baru dan berhasil refreshing tetapi tetap bermanfaat. 

Dulu saya paling takut meninggalkan suami dan anak-anak. Ada rasa bersalah. Khawatir anak-anak rewel dan suami kewalahan mengurus mereka.

Belakangan saya menyadari bahwa ketakutan ini muncul karena saya menganggap bahwa pengasuhan anak adalah tanggung jawab utama seorang ibu.

Padahal, anak-anak memiliki ayah yang juga mampu bertanggungjawab dan merawat mereka. Komunikasi yang dibangun antara saya dan suami membuat kami lebih terbuka sehingga tahu betul apa yang bisa dan boleh dilakukan dalam kondisi tertentu.

Kami berusaha memberi ruang kepada satu sama lain untuk belajar, beristirahat, menjalankan hobi dan bertemu teman. Ruang ini kami atur melalui komunikasi serta pembagian tugas pengasuhan yang kami sepakati bersama. 

Terkait kebebasan menentukan pilihan, saya berharap semua perempuan bisa merdeka. Merdeka untuk menentukan pilihan yang terbaik untuk dirinya.

Membatasi diri untuk mencari validasi orang lain dan tidak pernah takut penilaian orang lain. Meskipun bulan Agustus telah berlalu, kita tetap harus merdeka, setiap hari!.[]

 

 

                                           

 

 

x

Posting Komentar untuk "Menjadi Perempuan Merdeka Setiap Hari"